Istilah “buruh pena” muncul bukan tanpa alasan.
Ada kesejangan yang sering kali dirasakan antara besarnya pengaruh sebuah tulisan dengan realitas ekonomi yang diterima penulisnya.
Lirik-lirik Hindia yang sering menyentuh soal ekspektasi hidup dan kenyataan finansial sangat pas menggambarkan kondisi banyak jurnalis yang tetap berjuang di jalur ini meski secara ekonomi tidak selalu bergelimang kemewahan.
4. Menghadapi Kritik dan Kebencian Publik
Di era media sosial, jurnalis sering kali menjadi sasaran tembak saat ada berita yang tidak sesuai dengan selera publik.
Lagu ini menangkap nuansa tentang bagaimana rasanya tetap melangkah di tengah banyaknya suara-suara sumbang di luar sana.
Bagi jurnalis, lagu ini menjadi pengingat untuk tetap fokus pada inti pekerjaan, terlepas dari segala kebisingan yang ada.
5. Pencarian Makna di Balik Rutinitas
Pada akhirnya, lagu ini adalah tentang pencarian makna.
Jurnalis sering kali merasa jenuh dengan rutinitas meliput peristiwa yang terkadang itu-itu saja.
Namun, lewat lagu ini, ada sebuah pesan tersirat bahwa meskipun kita sering bertanya “untuk apa”, kita tetap terus berjalan karena ada sesuatu yang kita cari entah itu kebenaran, perubahan sosial, atau sekadar pemenuhan rasa ingin tahu.
Bagi kamu yang bergelut di dunia media, mendengarkan lagu ini saat pulang liputan atau saat sedang dikejar deadline mungkin bisa memberikan rasa tenang karena merasa “dimengerti”.
Kalau menurutmu, bagian lirik mana yang paling menyentuh kehidupanmu sebagai jurnalis?
Baca Juga: “Besok Mungkin Kita Sampai”: Belajar Ikhlas Menerima Proses dari Hindia
(Mira)
















