“Amerika Serikat dengan tegas menentang setiap perubahan yang akan membatasi kemampuan industri AS untuk mendukung atau berpartisipasi dalam pengadaan pertahanan nasional negara-negara anggota UE,” demikian bunyi dokumen tersebut.
Washington menilai bahwa penerapan proteksionisme oleh Uni Eropa bukanlah langkah yang tepat, terutama di tengah meningkatnya eskalasi dan tantangan keamanan global saat ini.
Politico menyoroti adanya paradoks dalam pendekatan diplomatik AS terhadap sekutunya di Eropa.
Di satu sisi, Washington secara konsisten mendesak negara-negara Eropa untuk memikul tanggung jawab finansial dan operasional yang lebih besar atas pertahanan kawasan.
Namun di sisi lain, AS enggan melihat peningkatan kemandirian pertahanan Eropa tersebut terwujud jika harus mengorbankan pangsa pasar perusahaan senjata Amerika.
Baca Juga: Peringatan Keras Rusia: Angkatan Laut Siap Terobos Jika Barat Nekat Blokade Laut
Indikasi kemandirian pertahanan Eropa ini mulai terlihat nyata.
Pekan lalu, sebuah dokumen internal Kementerian Pertahanan Jerman mengungkap bahwa UE tengah mengkaji penggunaan pesawat pengintai produksi Eropa guna menggantikan armada Boeing Airborne Early Warning and Control (AWACS) buatan AS.
Langkah strategis ini dipandang sebagai dorongan dari sebagian negara anggota UE untuk menekan ketergantungan pada pemasok eksternal.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dalam Konferensi Keamanan Munich awal bulan ini menyatakan bahwa paradigma Eropa terhadap keamanan kolektif telah berubah secara mendasar.
Rutte menegaskan, negara-negara Eropa kini jauh lebih siap untuk meningkatkan belanja pertahanan dan mengambil peran yang lebih proaktif di dalam aliansi.
Perdebatan mengenai akses pasar ini diyakini akan terus memanas seiring dengan dinamika pembagian beban pertahanan antar sekutu NATO dan arah kebijakan industri militer Eropa di masa depan.
(FR)
















