Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Menjelang bulan suci Ramadan, kewaspadaan konsumen dalam memilih produk kurma kini tidak lagi sekadar soal rasa dan tekstur.
Sorotan global tengah tertuju pada fenomena yang disebut sebagai date laundering atau pencucian label asal kurma, khususnya pada varietas premium seperti Medjool.
Laporan investigasi terbaru mengungkap dugaan kuat bahwa sebagian kurma yang diproduksi di permukiman ilegal Tepi Barat masuk ke pasar internasional dengan menyamarkan identitas asalnya.
Praktik ini diduga dilakukan melalui negara ketiga atau jalur logistik tidak langsung untuk menghindari pengawasan ketat dan kampanye boikot yang sedang menguat.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Kenali 6 Jenis Kurma Populer dan Perbedaan Rasanya
Mengapa Isu Label Ini Penting?
Data industri menunjukkan bahwa pasar kurma dunia diproyeksikan terus tumbuh hingga menembus angka US$34,5 miliar pada 2026.
Sebagai salah satu pemain utama kurma premium, Israel mengekspor sekitar 35.000 ton per tahun. Namun, yang mengejutkan, hanya sekitar 8.800 ton yang terdata diproduksi di wilayah yang diakui secara internasional.
Artinya, sebagian besar volume ekspor tersebut diduga berasal dari wilayah pendudukan Tepi Barat.
Bagi banyak konsumen, terutama di Eropa dan dunia Muslim, membeli produk dari wilayah tersebut bersinggungan dengan isu etis dan hukum internasional.
















