Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Ibadah puasa pada bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus secara fisik, melainkan juga melatih ketahanan mental dan emosional. Perubahan pola makan dan penurunan kadar gula darah secara signifikan sering kali memengaruhi suasana hati atau mood seseorang pada siang hari.
Kondisi perut yang kosong cenderung membuat seseorang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, hingga sulit mengendalikan amarah. Fenomena ini dalam dunia medis sering berkaitan dengan penurunan glukosa yang memengaruhi kinerja otak dalam mengontrol impuls emosional.
Masyarakat perlu memahami strategi psikologis yang tepat agar tetap mampu menjaga kesabaran dan kejernihan pikiran selama menjalankan ibadah suci ini.
Baca Juga:Â Gula Aren vs Gula Putih vs Gula Tebu: Mana yang Paling “Ramah” untuk Kesehatan Tubuh?
Pahami Reaksi Kimia dalam Tubuh
Langkah awal dalam menjaga stabilitas emosi adalah menyadari bahwa rasa lemas dan sensitif merupakan reaksi alami tubuh saat kekurangan energi. Ketika pasokan energi menurun, otak bekerja lebih keras untuk menjaga fungsi vital sehingga kemampuan untuk mengelola stres sedikit berkurang.
Masyarakat dapat menyiasati hal ini dengan tidak memaksakan diri melakukan pekerjaan yang terlalu berat pada saat kondisi energi sedang berada di titik terendah. Menyadari keterbatasan fisik membantu seseorang untuk lebih memaklumi diri sendiri dan orang lain.
Pemahaman ini menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak mudah meledak secara emosional saat menghadapi situasi yang memicu tekanan di lingkungan kerja maupun rumah.
Lakukan Teknik Pernapasan Tenang
Mempraktikkan teknik pernapasan dalam atau deep breathing menjadi solusi instan saat muncul percikan emosi negatif. Ketika merasa mulai tidak sabar, masyarakat dapat menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut.
Proses ini membantu meningkatkan pasokan oksigen ke otak dan menurunkan hormon stres seperti kortisol dalam seketika. Aktivitas sederhana ini memberikan jeda bagi pikiran untuk merespons situasi secara lebih bijak daripada bereaksi secara impulsif.
Melakukan teknik pernapasan ini secara rutin selama beberapa menit setiap harinya terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan dan menjaga ketenangan batin selama berpuasa.
















