- Ketidakseimbangan Elektrolit: Kurangnya asupan kalium, magnesium, atau kalsium akibat dehidrasi atau pola makan yang tidak terjaga bisa mengganggu sinyal listrik jantung.
- Kelainan Bawaan: Beberapa kondisi seperti sindrom Wolf Parkinson White (WPW) sering kali baru terdeteksi saat seseorang memasuki usia dewasa muda.
- Gangguan Hormonal: Masalah pada kelenjar tiroid, baik hipertiroidisme maupun hipotiroidisme, memiliki dampak langsung pada kecepatan detak jantung.
- Gaya Hidup Modern: Kurang tidur kronis, stres berlebih, konsumsi kafein yang tidak terkontrol, serta kebiasaan merokok dan alkohol menjadi pemicu utama di lingkungan perkotaan.
Gejala yang Sering Disepelekan
Bahaya utama dari aritmia adalah gejalanya yang sering dianggap ringan.
Banyak anak muda merasa mudah lelah, pusing, atau dada terasa berdebar kencang saat sedang santai, namun menganggapnya hanya karena kelelahan biasa.
Padahal, jika tidak ditangani melalui pemeriksaan seperti EKG, aritmia bisa meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius di masa depan.
Langkah Pencegahan
Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati.
Membatasi konsumsi kafein, mengelola stres dengan baik, serta memastikan waktu tidur yang cukup adalah langkah awal yang krusial.
Selain itu, rutin melakukan pemeriksaan jantung sejak dini sangat disarankan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Dengan bantuan teknologi medis terkini, seperti pemantauan kesehatan melalui aplikasi atau pusat layanan vaskular modern, deteksi dini aritmia kini menjadi jauh lebih mudah dan akurat bagi generasi muda.
(Mira)
















