Bahaya Lapar Mata Saat Berburu Takjil Ramadhan

Ilustrasi - Fenomena lapar mata sering memicu perilaku boros saat membeli takjil. Kenali penyebab psikologisnya agar ibadah puasa tidak terjebak dalam perilaku mubazir. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Fenomena lapar mata sering memicu perilaku boros saat membeli takjil. Kenali penyebab psikologisnya agar ibadah puasa tidak terjebak dalam perilaku mubazir. (Dok. Ist)

Dampak Buruk Perilaku Mubazir

Perilaku membeli makanan secara berlebihan sangat bertentangan dengan esensi puasa yang mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri. Selain menyebabkan pemborosan finansial, kebiasaan ini juga menyumbang angka timbulan sampah sisa makanan yang meningkat tajam selama bulan suci.

Secara kesehatan, mengonsumsi terlalu banyak jenis makanan secara bersamaan saat berbuka juga memberikan beban berat bagi sistem pencernaan. Lambung yang kaget karena mendapat asupan gula dan lemak dalam jumlah besar sekaligus akan mengalami gangguan seperti kembung atau begah.

Menjaga porsi makan yang wajar membantu organ tubuh bekerja secara optimal dan mencegah rasa lemas atau mengantuk setelah makan besar.

Strategi Menahan Dorongan Belanja Takjil

Masyarakat dapat menekan dorongan lapar mata dengan membuat daftar menu berbuka sebelum berangkat menuju lokasi penjualan takjil. Menetapkan batasan jumlah uang yang akan dibelanjakan juga efektif mengontrol keinginan untuk membeli barang di luar rencana awal.

Baca Juga: 5 Takjil Terlaris Khas Pontianak yang Diburu Warga

Membawa uang tunai dalam jumlah pas sesuai kebutuhan belanja membantu seseorang untuk lebih disiplin dan tidak mudah tergoda oleh tawaran pedagang lain. Selain itu, menyiapkan sebagian menu berbuka sendiri di rumah secara sederhana memberikan kepuasan batin dan menjamin kebersihan makanan.

Dengan mengedepankan prinsip secukupnya, masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang, sehat, dan jauh dari sifat tabzir atau perilaku membuang-buang sesuatu secara sia-sia.

(*Sr)