Bahaya Lapar Mata Saat Berburu Takjil Ramadhan

Ilustrasi - Fenomena lapar mata sering memicu perilaku boros saat membeli takjil. Kenali penyebab psikologisnya agar ibadah puasa tidak terjebak dalam perilaku mubazir. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Fenomena lapar mata sering memicu perilaku boros saat membeli takjil. Kenali penyebab psikologisnya agar ibadah puasa tidak terjebak dalam perilaku mubazir. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Suasana sore hari menjelang berbuka puasa selalu identik dengan keramaian pasar takjil di berbagai sudut kota. Para pedagang menjajakan aneka minuman segar dan kudapan manis yang menggugah selera bagi siapa saja yang sedang menahan lapar.

Namun, momen ini sering kali menjebak masyarakat ke dalam fenomena lapar mata atau keinginan untuk membeli semua makanan yang terlihat. Kondisi perut yang kosong menurunkan kemampuan otak untuk berpikir rasional dalam menentukan porsi makanan yang sebenarnya tubuh butuhkan.

Akibatnya, banyak orang berakhir dengan tumpukan bungkusan makanan yang melampaui kapasitas lambung dan berakhir menjadi tumpukan sampah sisa makanan.

Baca Juga: Ratusan Warga Berburu Takjil, Aktivitas Pasar Juadah di Sekadau Meningkat Signifikan

Akar Psikologis Keinginan Membeli Berlebih

Secara psikologis, rasa lapar yang ekstrem memicu otak untuk memberikan sinyal darurat guna mengumpulkan cadangan energi sebanyak mungkin. Hal ini menciptakan persepsi bahwa satu porsi makanan tidak akan cukup untuk memuaskan rasa lapar saat waktu berbuka tiba.

Masyarakat sering kali merasa sangat bersemangat saat memilah menu di pasar takjil, namun semangat tersebut langsung hilang hanya setelah meminum satu gelas air dan menyantap sedikit makanan ringan.

Penurunan kadar gula darah selama belasan jam memang mengganggu kontrol diri dan membuat seseorang lebih impulsif dalam berbelanja.

Kesadaran akan kondisi psikologis ini menjadi kunci utama agar warga tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang merugikan dompet dan nilai ibadah itu sendiri.