Tekanan Biaya Hidup Picu Stres Finansial Pekerja Muda

Ilustrasi - Tingginya biaya hidup memicu stres finansial bagi Gen Z dan milenial, memaksa mereka mencari pekerjaan sampingan untuk bertahan. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Tingginya biaya hidup memicu stres finansial bagi Gen Z dan milenial, memaksa mereka mencari pekerjaan sampingan untuk bertahan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Generasi milenial dan Gen Z memegang proyeksi mendominasi 74 persen tenaga kerja global pada tahun 2030. Di balik dominasi tersebut, masalah keuangan terus membayangi kehidupan mereka.

Survei terbaru dari Deloitte pada 2025 melibatkan 23.482 responden dari 44 negara. Hasilnya menunjukkan biaya hidup menempati posisi teratas sebagai sumber kekhawatiran pekerja muda selama empat tahun berturut-turut.

Tekanan ekonomi membuat hampir separuh pekerja muda tidak merasa aman secara finansial. Angka ketidakamanan ini meningkat tajam jika membandingkan data survei pada tahun 2024.

Lebih dari separuh pekerja mengaku hidup dari gaji ke gaji. Mereka menghabiskan seluruh pendapatan hanya untuk membayar kebutuhan rutin setiap bulan.

Baca Juga: 5 Alasan Ilmiah Kenapa Semakin Stres, Humor Kita Makin “Receh”

Kondisi ini memaksa puluhan persen responden mengalami kesulitan membayar tagihan bulanan.

Mereka juga mengkhawatirkan kemampuan finansial mereka saat memasuki masa pensiun kelak karena tidak memiliki tabungan yang memadai.

Pekerjaan Sampingan Menjadi Bantalan

Menghadapi inflasi dan kebutuhan yang mencekik, sepertiga pekerja muda memilih mencari pekerjaan sampingan. Mereka membutuhkan sumber pendapatan tambahan untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Selain motivasi finansial, mereka juga memanfaatkan pekerjaan sampingan untuk mengembangkan keterampilan dan memperluas jaringan.

Pekerjaan tambahan ini perlahan menjadi ruang eksplorasi identitas. Banyak pekerja muda mengambil langkah ini saat pekerjaan utama belum memenuhi ekspektasi karir maupun kebutuhan ekonomi mereka.