Opini  

Kisah Agung Khadijah dan Rasulullah, Cinta yang Membiayai Wahyu

Ilustrasi - Membaca kembali kisah agung cinta Siti Khadijah RA dan Rasulullah SAW. Teladan kesetiaan Ummul Mukminin yang rela mengorbankan harta demi dakwah dan wahyu. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Membaca kembali kisah agung cinta Siti Khadijah RA dan Rasulullah SAW. Teladan kesetiaan Ummul Mukminin yang rela mengorbankan harta demi dakwah dan wahyu. (Dok. Ist)

OPINI – Tulisan ketiga Edisi Ramadan. Kali ini kisah istri Rasulullah, Siti Khadijah RA. Kisah cinta yang agung. Anak muda sekarang yang sedang dimabuk cinta, ada baiknya membaca narasi ini sambil seruput Koptagul habis sahur, wak!

Di kota suci Mekkah, sekitar tahun 555 M, lima belas tahun sebelum dunia menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, lahirlah seorang perempuan yang kelak membuat sejarah bertekuk lutut.

Dialah Khadijah binti Khuwaylid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay. Ia berasal dari Bani Asad, suku Quraisy. Ia wafat tahun 619 M, pada 10 Ramadan. Usia sekitar 65 tahun, tiga tahun sebelum Hijrah.

Tahun itu disebut Amul Huzn, Tahun Kesedihan. Bukan sekadar duka biasa. Itu seperti matahari redup di langit dakwah.

Baca Juga: Ramadan Mubarak atau Ramadan Kareem? Ternyata Ini Beda Artinya

Ia dikenal sebagai Ummul Mukminin, at Thahirah (yang suci), Ameerat Quraisy. Dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, Sebaik baik wanita di zamannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik baik wanita umat ini adalah Khadijah binti Khuwaylid.

Ia disejajarkan dengan Maryam, Asiyah, dan Fatimah az Zahra sebagai empat wanita terbaik di surga. Bukan best couple TikTok, tapi best woman in eternity.

Di era Jahiliah yang patriarkis, di mana perempuan sering diperlakukan seperti barang diskon akhir musim, Khadijah justru menjelma raksasa ekonomi. Ayahnya, Khuwaylid bin Asad, gugur dalam Perang Fijar.

Ia yatim sejak muda, mewarisi kekayaan besar, dan mengelola kafilah dagang ke Syam dan Yaman. Kafilahnya disebut setara dengan seluruh kafilah Quraisy lainnya.

Kalau hari ini, mungkin Forbes edisi padang pasir sudah memuat wajahnya. Tapi ia bukan cuma kaya saldo, ia kaya martabat.

Sebelum bertemu Muhammad SAW, ia telah menikah dua kali. Pertama, dengan Atiq bin Aid dari Bani Makhzum. Dari pernikahan ini memiliki anak Hind. Kedua, dengan Abu Halah bin Zurarah dari Bani Tamim, memiliki Hind dan Halah.

Keduanya wafat. Banyak bangsawan melamar. Ia menolak. Rupanya ia tidak mencari pria dengan kuda tercepat, tapi hati terbersih.

Ketika mendengar reputasi Muhammad SAW sebagai Al Amin dan Ash Shadiq, ia mempekerjakan beliau memimpin kafilah ke Syam. Usia beliau 25 tahun, Khadijah 40 tahun. Perjalanan itu sukses besar, untung berlipat. Maisarah melaporkan kejujuran dan akhlak luar biasa.

Cinta mereka lahir dari integritas, bukan dari gombalan kamu seperti bintang di langit yang biasanya redup setelah dua minggu.

Melalui Nafisah binti Munyah, Khadijah melamar terlebih dahulu. Ya, ia yang melamar. Dunia modern yang ribut soal gengsi seharusnya tepuk tangan sambil introspeksi.

Pernikahan mereka berlangsung 25 tahun (595 hingga 619 M), monogami total. Rasulullah SAW tidak menikah lagi selama Khadijah hidup. Ini bukan cinta trial 3 bulan dengan opsi unsubscribe.

Dari pernikahan itu lahir enam anak menurut mayoritas ulama Sunni: Al Qasim (lahir sekitar 598 M, wafat usia 2 tahun), Abdullah atau ath Thayyib/ath Thahir (wafat bayi sekitar 611 hingga 615 M), Zainab RA (lahir 599 M, wafat 629 M), Ruqayyah RA (lahir 601 M, wafat 624 M), Ummu Kultsum RA (lahir 603 M, wafat 630 M), dan Fatimah az Zahra RA (lahir sekitar 605 M atau 615 M menurut sebagian riwayat, wafat 632 M, enam bulan setelah ayahnya).

Semua putra wafat waktu kecil. Garis keturunan Nabi berlanjut melalui Fatimah RA dan Ali RA, melahirkan Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, Ahlul Bait yang harum hingga hari ini.

Lalu datang malam di Gua Hira. Wahyu pertama turun. Rasulullah SAW pulang gemetar, Selimuti aku! Khadijah tidak panik, tidak berkata, Overthinking kamu. Ia menyelimuti, menenangkan, lalu membawa beliau ke Waraqah bin Naufal.

Ia berkata, Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu… Ia menjadi orang pertama beriman. Ia mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah.

Ia membeli budak Muslim, memberi makan saat boikot Bani Hasyim tiga tahun penuh kelaparan. Cinta yang diuji bukan oleh chat dibaca tidak dibalas, tapi oleh ancaman, pengucilan, dan perut kosong.

Ketika ia wafat pada 10 Ramadan 619 M di Mekkah, Rasulullah SAW begitu berduka. Aisyah RA berkata ia tidak pernah cemburu kepada istri Nabi seperti kepada Khadijah, meski sudah wafat.

Rasulullah bersabda, Allah tidak menggantikanku dengan yang lebih baik darinya… Ia beriman saat orang kafir, membenarkanku saat orang mendustakan, membantuku dengan hartanya… Beliau juga berkata, Aku sungguh dianugerahi cinta kepadanya.

Baca Juga: Wali Kota Pontianak Ajak ASN Jadikan Ramadan Momentum Introspeksi dan Hijrah Diri

Wahai anak muda, mari jujur sebentar. Cinta kalian hari ini sering kali lebih rapuh dari sinyal Wi Fi di sudut kamar. Baru tiga bulan sudah bicara selamanya, baru sekali salah paham sudah update status galau berjamaah.

Bandingkan dengan Khadijah RA, 25 tahun monogami (595 hingga 619 M), setia tanpa drama, menopang suami saat wahyu pertama mengguncang jiwa, menghabiskan harta saat boikot tiga tahun mencekik perut, dan tetap tersenyum ketika dunia memusuhi.

Itu bukan cinta yang ribut soal anniversary ke 2 bulan, itu cinta yang menopang lahirnya peradaban. Jika hubunganmu belum membuatmu lebih jujur, lebih berani, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah, mungkin itu bukan kisah epik, itu cuma trailer yang terlalu berisik.

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar