OPINI – Pagi pertama Ramadan 1447 H. Udara masih menyisakan embun. Selepas Subuh, kami belum beranjak. Ceramah perdana pengurus masjid tentang agenda Ramadan baru saja usai.
Jemaah tetap duduk, mengisi ruang ruang di semua arah mimbar. Mushaf terbuka. Cahaya lembut menetes dari jendela tinggi hall masjid yang luas. Di sela hening itu, saya menatap Surah Hud ayat 43 hingga 72.
Ayat 43 menghadirkan adegan yang mengguncang nurani. Anak Nabi Nuh menolak naik bahtera. Ia berkata:
Sa aawi ila jabalin yasimuni minal maa.
Aku akan berlindung ke gunung yang dapat melindungiku dari air bah. (Hud: 43)
Baca Juga:Â Ramadan Mubarak atau Ramadan Kareem? Ternyata Ini Beda Artinya
Jawaban Nabi Nuh tegas dan menyayat:
La ashima al yauma min amrillahi illa man rahim.
Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari ketetapan Allah kecuali orang yang diberi rahmat Nya.
Gelombang memisahkan mereka. Di situ saya menangkap ibrah pertama: iman tidak diwariskan secara biologis. Kedekatan darah tidak menjamin keselamatan spiritual.
Dalam kehidupan modern, kita sering mengandalkan nama besar, jaringan, reputasi. Tetapi keselamatan hakiki bertumpu pada pilihan iman pribadi dan ketaatan sadar.
Ayat 46 mempertegas ketika Allah menegur Nabi Nuh:
Innahu laisa min ahlik, innahu amalun ghairu salih.
Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang beriman); sesungguhnya perbuatannya tidak baik.
Keluarga sejati adalah keluarga yang disatukan oleh nilai dan keyakinan, bukan sekadar hubungan nasab. Di tengah arus globalisasi, ibrah ini menuntut kita membangun rumah tangga dengan fondasi keteladanan iman, bukan sekadar fasilitas.
Kisah bergeser kepada kaum Ad dan Nabi Hud (ayat 50 hingga 60). Mereka kuat, maju, dan percaya diri. Namun kesombongan kolektif membutakan nurani. Peradaban yang merasa tak terkalahkan akhirnya runtuh oleh angin yang tak terlihat.
Ibrah kedua: kesombongan struktural menghancurkan peradaban. Dalam bahasa hari ini, krisis bukan selalu karena kurang teknologi, tetapi karena hilangnya integritas moral dan kerendahan hati.
Lalu datang kisah Tsamud dan Nabi Salih (ayat 61 hingga 68). Mukjizat unta telah nyata, namun tetap disembelih. Allah berfirman:
Fasta tu an amri rabbihim.
Mereka durhaka terhadap perintah Tuhan mereka.
Ibrah ketiga: bukti tidak cukup bagi hati yang tertutup. Di era informasi, data berlimpah. Tetapi tanpa kejujuran batin, manusia tetap menolak kebenaran. Masalahnya bukan kurang fakta, melainkan kerasnya hati.
Suasana hall masjid makin khusyuk ketika ayat 69 hingga 72 dibaca. Malaikat datang kepada Nabi Ibrahim membawa kabar gembira. Istrinya terkejut:
A alidu wa ana ajuzun wa hadza bali syaikhan?
Apakah aku akan melahirkan anak padahal aku seorang perempuan tua dan suamiku sudah lanjut usia? (Hud: 72)
Di tengah kisah kehancuran kaum kaum sebelumnya, Allah menyisipkan berita harapan. Ibrah keempat: rahmat Allah melampaui logika manusia. Ketika hitungan rasional berkata mustahil, kuasa Allah membuka kemungkinan baru.
Dalam kehidupan modern di tengah tekanan ekonomi, kegelisahan sosial, atau kegagalan pribadi ayat ini mengajarkan optimisme teologis.
Ramadan pertama ini terasa seperti pengingat kolektif. Gelombang bisa datang kapan saja: krisis moral, bencana sosial, atau keguncangan pribadi.
Gunung rasionalitas dan kekuatan materi tidak selalu menyelamatkan. Yang menyelamatkan adalah rahmat Allah, diraih melalui tobat, ketaatan, dan kerendahan hati.
Di antara jemaah yang duduk mengelilingi mimbar, saya melihat generasi muda, orang tua, pekerja, dan mahasiswa. Semua memegang mushaf yang sama.
Surah Hud 43 hingga 72 seakan berbisik: jangan merasa aman hanya karena status; jangan merasa kuat karena jabatan; jangan merasa benar karena mayoritas. Bangunlah kehidupan dengan iman yang autentik, akhlak yang konsisten, dan ketundukan pada wahyu.
Baca Juga:Â Tips puasa untuk kamu yang punya penyakit Gerd
Ramadan adalah bahtera kita. Jika ingin selamat, jangan menunda naik. Jangan menunggu gelombang makin tinggi. Jangan merasa gunung cukup melindungi.
Subuh perlahan berubah terang. Waktu isyraq hampir tiba. Di antara lembar lembar mushaf dan desah doa pelan, saya memahami satu grand ibrah: keselamatan bukan soal kedekatan, kekuatan, atau logika melainkan soal pilihan iman, keteguhan hati, dan harapan kepada rahmat Allah.
Ramadan baru saja dimulai. Semoga kita tidak menjadi penonton gelombang, tetapi penumpang bahtera keselamatan.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar










