OPINI – Tulisan keenam Edisi Ramadan. Sebelumnya kita bahas tokoh protagonis, kali ini antagonis. Sesuai permintaan pengikut saya, Bang, bahas juga Abu Jahal dan Abu Lahab, dong.
Inilah kisah duo oposisi sejati, penantang Muhammad di awal lahirnya Islam. Sambil menunggu azan salat Jumat, simak narasinya lalu bayangkan seruput koptagul di tepian Sungai Kapuas, wak!
Abu Jahal dan Abu Lahab ini kalau hidup di zaman sekarang, mungkin sudah punya podcast sendiri, Ngopi Bareng Elit Quraisy, Membahas Cara Menghadang Perubahan.
Dua nama ini bukan sekadar tokoh antagonis dalam sejarah dakwah Muhammad di Makkah. Mereka adalah simbol oposisi garis keras, oposisi yang bukan cuma beda pendapat, tetapi hobi menyiksa, memfitnah, dan merancang pembunuhan.
Baca Juga:Â Alasan Muhammadiyah Mulai Puasa Rabu 18 Februari
Kalau ada lomba Siapa Paling Anti Tauhid, mereka juara umum, dapat piala bergilir dari berhala Al Lat dan Al Uzza.
Kisah mereka bukan dongeng warung kopi. Tercatat rapi dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Ishaq yang kemudian disunting Ibnu Hisyam, dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, serta diperkuat hadis sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Bahkan Alquran turun langsung menyebut nama salah satu dari mereka dalam Surah Al Masad 111. Anda bayangkan, sampai diabadikan dalam wahyu. Ini bukan sekadar haters, ini haters level langit.
Abu Lahab, nama aslinya Abd al Uzza bin Abd al Muththalib, paman kandung Muhammad sendiri. Dijuluki Bapak Api karena wajahnya kemerahan dan tampan. Rumahnya sebelahan dengan Muhammad, cuma beda tembok.
Tetapi tembok hati? Setebal ego pejabat yang alergi kritik. Ia kaya dari perdagangan dan riba. Ajaran Islam yang menyatakan semua manusia setara di hadapan Allah jelas mengancam kursi empuk elit Quraisy.
Mirip elit mana pun yang panik kalau rakyat mulai sadar, kekuasaan bukan warisan turun temurun.
Saat Muhammad mengundang keluarga dalam peristiwa Dawatul Asyirah, Abu Lahab berdiri dan berteriak, Celakalah kamu sepanjang hari! Untuk ini kamu kumpulkan kami?
Turunlah Surah Al Masad 111, Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah ia. Itu seperti teguran resmi level ilahi. Ketika Quraisy memboikot Bani Hasyim pada tahun ke 7 kenabian, Abu Lahab satu satunya dari klan sendiri yang tidak membela.
Ia malah ikut menandatangani dokumen boikot. Kalau ini politik modern, mungkin ia dapat jabatan komisaris kehormatan karena berhasil berseberangan demi stabilitas.
Ia bahkan memaksa dua anaknya menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum, putri Muhammad. Ancaman klasik.
Aku haram melihat kalian kalau tidak menceraikan putri Muhammad! Istrinya, Ummu Jamil Arwa binti Harb, setia menyebar duri di jalan Muhammad.
Alquran menyebutnya hammalatal hatab pembawa kayu bakar, yang kelak di neraka memakai tali sabut di lehernya. Satire ilahi yang pedasnya melebihi pidato kampanye.
Akhir hidup Abu Lahab tragis. Setelah Perang Badar 2 H yang tidak ia ikuti, ia marah mendengar kekalahan Quraisy, memukul hamba sahaya Abbas, lalu dipukul balik hingga kepalanya pecah.
Lukanya bernanah, bau busuk. Anak anaknya takut mendekat karena khawatir tertular. Mayatnya didorong dengan tongkat dan ditimbun batu jauh dari pemakaman biasa. Dari elit terpandang jadi jasad yang dijauhi. Sejarah memang kejam pada kesombongan.
Lalu ada Abu Jahal, nama aslinya Amr bin Hisyam bin Al Mughirah. Awalnya dijuluki Abu al Hakam Bapak Kebijaksanaan. Tetapi Muhammad menjulukinya Abu Jahal, Bapak Kejahilan. Ironi tingkat dewa debat.
Ia pemimpin Bani Makhzum, klan kuat pesaing Bani Abd Manaf. Dalam Sirah, ia terang terangan berkata, persaingan antarklan membuatnya menolak kenabian.
Sekarang mereka mengaku ada nabi dari mereka? Demi Allah, kami tidak akan percaya! Jadi ini bukan soal kebenaran, ini soal gengsi politik. Familiar, bukan?
Dialah dalang penyiksaan Bilal bin Rabah, batu besar di dada di bawah terik matahari, hingga Bilal hanya mampu berkata, Ahad Ahad. Ia juga membunuh Sumayyah dengan tombak, menjadikannya syahid pertama.
Yasir tewas disiksa. Abdullah bin Masud dipukuli karena membaca Alquran. Bahkan, ia pernah melemparkan kotoran unta ke punggung Muhammad saat sujud di Kakbah. Oposisi model begini bukan lagi debat argumen, tetapi teror sistematis.
Ia pula yang mengusulkan pembunuhan kolektif Muhammad. Setiap klan mengirim satu pemuda agar darahnya tersebar dan Bani Hasyim tidak bisa menuntut balas.
Strategi tanggung jawab bersama konspirasi yang rapi, kalau saja bukan melawan takdir. Di Perang Badar, ia memimpin sekitar 1.000 pasukan meski kafilah dagang sudah selamat.
Ia berdoa di Kakbah, Ya Tuhan, siapa yang paling merusak hubungan kekeluargaan, binasakan hari ini. Ia yakin itu Muhammad. Ternyata, doa kadang seperti bumerang politik, salah sasaran, kena diri sendiri.
Abu Lahab dan Abu Jahal mengajarkan satu hal, kebencian yang dibungkus gengsi dan kepentingan hanya akan menulis nama sendiri dalam bab kehinaan.
Sejarah tidak pernah ramah pada mereka yang memusuhi kebenaran demi kursi, harta, dan simbol simbol kosong. Lucunya, pola itu selalu berulang, hanya nama dan kostum yang berbeda.
Baca Juga:Â Jadwal Lengkap Buka Puasa Seluruh Wilayah Kalbar 20 Februari
Kisah Abu Lahab dan Abu Jahal mengajarkan, kesombongan, gengsi kekuasaan, dan ketakutan kehilangan pengaruh dapat membutakan hati hingga kebenaran terasa seperti ancaman.
Ketika harta, status sosial, dan persaingan politik dijadikan tuhan kecil dalam dada, nurani pelan pelan mati, dan manusia rela mengorbankan keluarga, kemanusiaan. Bahkan, akal sehatnya sendiri.
Sejarah menunjukkan, kebencian yang dipelihara demi mempertahankan dominasi hanya akan berujung pada kehinaan. Sementara keteguhan iman dan kesabaran justru meninggikan derajat.
Maka, siapa pun yang hari ini merasa paling kuat, paling pintar, dan paling berkuasa, hendaknya bercermin. Jangan sampai nama yang ingin dikenang sebagai pemimpin justru tercatat sebagai simbol keangkuhan yang ditelan zaman.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar












