Belajar Arti Ketulusan, Ini 5 Hal Hangat dari Potret Kekeluargaan di Film The Impossible

"Belajar arti cinta dan pengorbanan dari film The Impossible. Simak 5 momen kekeluargaan paling menyentuh dari kisah nyata tragedi Tsunami 2004 ini."
Belajar arti cinta dan pengorbanan dari film The Impossible. Simak 5 momen kekeluargaan paling menyentuh dari kisah nyata tragedi Tsunami 2004 ini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Film The Impossible yang dirilis pada tahun 2012 mungkin adalah salah satu film bertema bencana paling emosional yang pernah dibuat.

Diangkat dari kisah nyata keluarga Maria Belon saat menghadapi Tsunami Samudra Hindia 2004, film ini tidak hanya menyajikan ketegangan bertahan hidup, tetapi juga potret kekeluargaan yang begitu kental.

Di tengah gempuran ombak dan reruntuhan, ada banyak pelajaran berharga tentang ikatan darah yang bisa kita ambil.

Film ini mengajarkan bahwa harta paling berharga bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang kita miliki.

Baca Juga: Menyelami Sisi Tergelap Umat Manusia: 5 Fakta Kelam yang Diangkat Film Infinity Pool

Berikut adalah 5 hal hangat dari kekeluargaan yang tergambar jelas dalam film The Impossible:

1. Ikatan Ibu dan Anak yang Saling Menguatkan

Salah satu scene paling menyentuh adalah perjuangan Maria (Naomi Watts) dan putra sulungnya, Lucas (Tom Holland).

Saat terpisah dari ayah dan adik-adiknya, Lucas yang masih remaja dipaksa keadaan untuk menjadi pelindung ibunya yang terluka parah.

Sebaliknya, Maria meski kesakitan, terus memotivasi Lucas untuk tetap berani. Ini menunjukkan bahwa dalam keluarga, peran bisa saling mengisi saat kondisi mendesak.

2. Seorang Ayah yang Pantang Menyerah

Sosok Henry (Ewan McGregor) menggambarkan keteguhan seorang kepala keluarga.

Meskipun ia harus mengambil keputusan berat dengan menitipkan dua anak bungsunya ke pengungsian demi mencari istri dan anak sulungnya, ia tidak pernah berhenti berharap.

Teriakannya memanggil nama keluarganya di tengah kegelapan malam menjadi bukti cinta ayah yang tak terbatas.

3. Mengajarkan Empati di Tengah Derita