Potensi Perbedaan Awal Puasa
Data astronomi menunjukkan potensi perbedaan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah tahun ini. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta BMKG, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia pada saat matahari terbenam sore ini masih di bawah ufuk (minus).
Ketinggian hilal berkisar antara -2,41 derajat hingga -0,93 derajat. Angka ini belum memenuhi kriteria MABIMS yang mensyaratkan minimal ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar hilal dapat teramati.
Kondisi ini memprediksi pemerintah akan menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari. Artinya, awal puasa versi pemerintah kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Baca Juga: Ramadan 2026, Hiburan Malam Pontianak ‘Puasa’ Sebulan Penuh: Diskotek Tutup Total, Karaoke Dibatasi
Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa lebih dulu. Menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Menyikapi potensi perbedaan ini, Menag Nasaruddin Umar meminta masyarakat tetap tenang dan saling menghormati. Pemerintah akan mengumumkan keputusan resmi malam ini setelah menerima laporan dari seluruh titik pemantauan.
(*Sr)















