Faktakalbar.id, OPINI – Koridor kabin masih redup. Lampu-lampu pesawat menyisakan cahaya lembut yang jatuh di lorong kursi.
Saya duduk di salah satu kursi aisle SQ 31 rute San Francisco–Singapura, baru saja menunaikan salat subuh di sela perjalanan panjang melintasi Samudra Pasifik.
Baca Juga: Menjaga Api Peradaban: Ketika Cendekia, Iptek, dan Imtaq Bertemu di Rumah ICMI
Di hadapan, layar peta penerbangan menunjukkan garis lengkung bumi. Di tangan, mushaf terbuka pada Surah Yunus ayat 1–109.
Saya meminta pramugara segelas Koptagul—kopi tanpa gula. Hangatnya perlahan menyentuh jemari.
Hal ini seolah ingin menghangatkan satu kesimpulan besar dari surah ini: iman adalah fondasi ketenangan dalam dunia yang terus bergerak.
Tauhid sebagai Poros Stabilitas
Surah Yunus dibuka dengan penegasan tentang kebenaran wahyu melalui ayat pertama.
Alif Lām Rā. Tilka āyātul-kitābil-ḥakīm. “Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah.” (Yunus: 1).
Di ketinggian 35.000 kaki, kalimat itu terasa sangat relevan. Dunia modern mungkin dipenuhi algoritma, data, dan kecerdasan buatan, tetapi Al-Qur’an tetap menyebut dirinya “al-ḥakīm” atau penuh hikmah.
Grand ibrah pertama: Bangun kehidupan di atas tauhid, bukan sekadar mengikuti tren.
Tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, melainkan orientasi hidup. Ia menata ulang prioritas, mengarahkan ambisi, dan menyeimbangkan antara dunia dan akhirat.
Dalam ekonomi, politik, bahkan sains, tauhid akan melahirkan integritas dan akuntabilitas.
Dunia: Indah, Lalu Hilang
Allah memberikan metafora yang sangat visual mengenai perumpamaan kehidupan dunia.
Innamā matsalul-ḥayātid-dunyā kamā’in anzalnāhu minas-samā’… “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari langit…” (Yunus: 24).
Air menyuburkan tanaman hingga manusia merasa memiliki dan menguasai, lalu tiba-tiba segalanya bisa hancur.
Di pesawat ini, segala teknologi terasa canggih. Namun, turbulensi kecil saja bisa mengguncang keyakinan manusia pada kendali yang dimilikinya.
Grand ibrah kedua: Jangan menggantungkan identitas pada kefanaan.
Dunia adalah proyek sementara, maka kelola dengan baik namun jangan diperbudak. Gunakan dunia, jangan dipuja, serta investasikan amal bukan sekadar reputasi.
Mayoritas Tidak Selalu Benar
Allah menegaskan bahwa kebanyakan manusia hanya mengikuti persangkaan.
Wa mā yattabi’u akṡaruhum illā ẓannā… “Kebanyakan mereka hanya mengikuti persangkaan.” (Yunus: 36).
Ini adalah ayat yang sangat tajam. Dalam era media sosial, kebenaran sering kali diukur oleh jumlah “like” dan “share”.
Grand ibrah ketiga: Verifikasi sebelum mengikuti. Iman menuntut sikap kritis, bukan reaktif.
Timbanglah informasi, jangan sekadar ikut arus karena mayoritas bukan parameter kebenaran. Sejarah Firaun telah membuktikan hal tersebut.
Taubat Jangan Ditunda
Saat Firaun hampir tenggelam, ia baru menyatakan keimanannya.
Āmantu annahu lā ilāha illalladzī āmanat bihī banū isrā’īl… “Aku beriman bahwa tidak ada Tuhan selain yang diimani Bani Israil…” (Yunus: 90).
Namun Allah menjawab: Al-āna wa qad ‘aṣaita qablu… “Sekarang baru beriman? Padahal sebelumnya engkau telah durhaka.” (Yunus: 91).
Di atas lautan luas yang kini terlewati pesawat, kisah itu terasa begitu nyata. Grand ibrah keempat: Jangan menunda perbaikan diri.
Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Dalam kehidupan modern, kita sering berkata “nanti” untuk berubah, memperbaiki salat, atau memperbaiki relasi.
Padahal, waktu terus bergerak tanpa kompromi.
















