Opini  

Air Mata Laut yang Tak Pernah Kering

Pelaut muda Fandi Ramadhan dituntut hukuman mati di PN Batam atas kasus narkoba 2 ton sabu.
Ilustrasi - Pelaut muda Fandi Ramadhan dituntut hukuman mati di PN Batam atas kasus narkoba 2 ton sabu. (Dok. Ist)

Di tengah laut, kardus-kardus dipindahkan dalam diam. Fandi sempat bertanya pelan. Jawaban yang ia terima hanya tatapan tajam dan perintah singkat, jangan banyak tanya. Ia memilih diam. Ia hanya ingin pulang.

Baca Juga: Cinta yang Tidak Takut Ditertawakan

21 Mei 2025, di perairan Karimun dekat Batam, sirene meraung memecah langit. Kapal disergap. Hampir dua ton sabu ditemukan dalam 67 kardus. Dunia Fandi runtuh dalam satu tarikan napas. “Aku cuma kerja tiga hari…” suaranya tenggelam dalam gemuruh penangkapan.

Sel di Batam terasa seperti liang yang belum sempat ditutup tanahnya. Setiap malam Fandi memeluk foto keluarganya. Ia membayangkan ibunya duduk di depan rumah, menunggu langkah kaki yang tak kunjung pulang. Ia membayangkan adik-adiknya bertanya, “Abang kapan pulang?”

Februari 2026, ruang sidang Pengadilan Negeri Batam menjadi saksi kehancuran seorang ibu. Jaksa menuntut mati berdasarkan Pasal 114 ayat 2 jo 132 UU Narkotika. Kata “mati” menggema seperti palu yang memecah dada. Fandi tersungkur di kaki Nirwana. “Maafkan aku, Bu… aku tidak tahu…” Tubuhnya gemetar. Tangisnya pecah seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang.

Nirwana memeluknya dengan jeritan yang membuat udara terasa sesak. “Jangan ambil dia… dia cuma mau bantu kami…” Sang ayah berdiri kaku, air matanya jatuh tanpa suara. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi orang tua selain melihat anaknya dihukum atas sesuatu yang ia bersumpah tak pernah ia mengerti.

Di luar, video tangis itu menyebar. Banyak yang bersimpati. Banyak yang marah. Tapi di dalam sel, Fandi tetap sendirian. Ia hanya seorang pemuda 24 tahun dengan mimpi sederhana, menyekolahkan adik, mengangkat derajat orang tua.

Kini, setiap ombak yang memukul pantai Belawan seperti membawa isak yang tak pernah reda. Air mata sang ibu tak pernah benar-benar kering. Laut yang dulu menjanjikan harapan kini hanya menyisakan kehilangan.

Di setiap doa yang terucap lirih di rumah kecil itu, terselip satu harapan yang rapuh: semoga keadilan masih punya hati.

Baca Juga: Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.