Opini  

Air Mata Laut yang Tak Pernah Kering

Pelaut muda Fandi Ramadhan dituntut hukuman mati di PN Batam atas kasus narkoba 2 ton sabu.
Ilustrasi - Pelaut muda Fandi Ramadhan dituntut hukuman mati di PN Batam atas kasus narkoba 2 ton sabu. (Dok. Ist)

OPINI – Based on true story. Kisah Fandi, anak Sumut yang baru kerja tiga hari, dijebak dengan dua ton narkoboy. Hukuman mati menantinya. Saya buatkan kisahnya dalam bentuk cerpen. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di Belawan, di tepi laut yang asin dan getir, lahirlah seorang bayi lelaki pada suatu malam ketika hujan menetes dari atap bocor seperti air mata langit. Bayi itu diberi nama Fandi Ramadhan. Ibunya, Nirwana, memeluknya dengan tubuh gemetar. Sementara ayahnya, Sulaiman, berbisik di telinga mungil itu dengan suara penuh harap, “Jadilah pelaut hebat, Nak. Bawa kami keluar dari lumpur ini.”

Baca Juga: BARAK 216

Rumah mereka tak pernah benar-benar kering. Lantai semen retak, dinding lapuk, dan bau laut yang tak pernah pergi. Fandi tumbuh dengan kaki telanjang, membantu ayahnya mengangkat karung di pelabuhan. Tangannya kecil, tapi tekadnya besar.

Setiap melihat kapal besar meninggalkan dermaga, matanya berbinar seperti menemukan secercah surga di ujung cakrawala. Ia ingin menjadi juru mesin. Ia ingin pulang membawa uang. Ia ingin adik-adiknya tidur tanpa perut kosong.

Tahun 2022, ia lulus dari Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh. Hari itu Nirwana menangis paling lama. Bukan hanya karena bangga, tapi karena ia tahu, laut yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan kini akan benar-benar merebut anaknya.

Setiap malam Fandi memijat kaki ibunya yang lelah berjualan gorengan. “Aku mau bantu keluarga, Bu,” katanya lirih. Nirwana hanya mengangguk, menyembunyikan takut di balik senyum yang dipaksakan.

April 2025, sebuah tawaran datang. Tiga hari kerja. Gaji besar. Menjaga mesin kapal bernama KM Sea Dragon. Tiga hari, hanya tiga hari. Bagi keluarga miskin, tiga hari bisa berarti sebulan makan. Fandi memeluk ibunya lama sekali sebelum berangkat. “Aku pulang cepat, Bu.” Nirwana tak sanggup menjawab. Ia hanya memeluk anaknya seperti orang yang sedang menggenggam waktu.

1 Mei 2025, Fandi berangkat ke Bangkok. Di negeri orang, ia menunggu dengan hati gelisah. 14 Mei, ia naik ke kapal lewat speedboat kecil. Air laut terasa lebih dingin dari biasanya. Ia tak tahu, tiga hari yang dijanjikan itu akan mengubah seluruh hidupnya.