Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Tragedi di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi alarm keras bagi kesehatan mental anak di Indonesia.
Seorang siswa dilaporkan mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Namun, bagi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), peristiwa pilu ini hanyalah puncak gunung es dari kondisi yang kini disebut sebagai “darurat anak mengakhiri hidup”.
Indonesia kini memegang predikat kelam dengan angka bunuh diri anak tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Malaka NTT, 30 Rumah Warga Sempat Terdampak
Sepanjang awal tahun 2026 saja, sudah ada tiga laporan kasus yang masuk, menambah daftar panjang statistik dari tahun-tahun sebelumnya.
Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu kita pahami mengenai krisis ini:
Bukan Sekadar Masalah Kemiskinan
Meski faktor ekonomi seperti ketidakmampuan membeli alat tulis sering menjadi pemicu, masalah ini jauh lebih kompleks.
KPAI menyoroti bahwa pola pengasuhan yang tidak hadir secara fisik atau emosional turut andil dalam rapuhnya mentalitas anak.
Kehilangan sosok pelindung di rumah membuat anak merasa sendirian saat menghadapi beban hidup yang seharusnya belum mereka tanggung.
















