5 Cara Ampuh Berhenti FOMO Agar Hidup Lebih Tenang dan Bahagia

"Sering merasa tertinggal saat melihat media sosial? Simak 5 cara efektif berhenti dari rasa FOMO dan mulai menikmati momen saat ini dengan lebih bahagia."
Sering merasa tertinggal saat melihat media sosial? Simak 5 cara efektif berhenti dari rasa FOMO dan mulai menikmati momen saat ini dengan lebih bahagia. (Dok. Ist)

Dengan menghargai hal-hal kecil seperti secangkir kopi yang enak atau udara pagi yang segar, otak kita akan terlatih untuk merasa cukup.

Rasa cukup adalah “obat” paling mujarab untuk menghilangkan rasa iri terhadap pencapaian orang lain yang tampak di layar ponsel.

4. Berlatih Hidup di Momen Saat Ini (Mindfulness)

Banyak dari kita yang hadir secara fisik di suatu tempat, tetapi pikiran kita sibuk memikirkan tempat lain atau kejadian lain yang sedang viral.

Mindfulness adalah teknik untuk tetap sadar dan hadir sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan sekarang.

Saat sedang makan, nikmatilah setiap suapannya.

Saat sedang berbicara dengan teman, dengarkanlah dengan sepenuh hati tanpa keinginan untuk memeriksa ponsel.

Kehadiran penuh ini akan membuat pengalaman hidup Anda terasa lebih kaya dan bermakna.

5. Prioritaskan Koneksi Nyata daripada Koneksi Digital

Terkadang, rasa FOMO muncul karena kita merasa kesepian.

Namun, menghabiskan waktu di media sosial sering kali hanya memberikan koneksi semu.

Cobalah untuk membangun hubungan yang lebih mendalam di dunia nyata.

Buatlah janji bertemu dengan sahabat lama atau habiskan waktu berkualitas bersama keluarga tanpa gangguan perangkat elektronik.

Interaksi langsung, tatap muka, dan percakapan jujur memberikan kepuasan emosional yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan like pada unggahan orang lain.

6. Mengambil Kendali Atas Kebahagiaan Anda

Berhenti dari kebiasaan FOMO bukan berarti Anda harus menutup diri dari dunia luar.

Ini adalah tentang mengambil kendali atas perhatian dan kebahagiaan Anda sendiri.

Ingatlah bahwa apa yang ditampilkan orang lain di internet sering kali hanyalah “panggung depan” yang sudah dikurasi sedemikian rupa, bukan realitas hidup mereka seutuhnya.

Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, Anda akan mulai menyadari bahwa hidup yang tenang dan autentik jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti tren yang terus berganti.

Baca Juga: Lelah dengan Hustle Culture, Ini 5 Alasan Logis Gen Z Beralih ke Slow Living

(Mira)