Opini  

Belajar dari Sacramento: Mengapa Kalimantan Barat Harus Menjaga 2,7 Juta Hektare Gambutnya

Ilustrasi - Jalur kayu atau boardwalk di Cosumnes River Preserve California sebagai simbol restorasi lahan basah. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)
Ilustrasi - Jalur kayu atau boardwalk di Cosumnes River Preserve California sebagai simbol restorasi lahan basah. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, OPINI – Setelah makan siang di pusat kota Sacramento, perjalanan berlanjut sekitar 20 mil menuju selatan. Mobil melaju menembus lanskap pertanian California yang tertata rapi sebelum tiba di Cosumnes River Preserve.

Di atas jalur kayu (boardwalk) yang membelah rawa, burung bangau berdiri anggun di perairan dangkal. Sekawanan belibis bergerak serempak dan seekor elang melayang tenang di langit kelabu.

Baca Juga: Ketika Air Menggenang, Nurani Kita Terbangun: Hikmah Banjir Sumatra dan Amanah Menjaga Tanah untuk Anak Cucu

Kawasan ini bukan sekadar ruang rekreasi. Ia adalah simbol penebusan sejarah ekologis California.

Di papan informasi tertulis fakta yang mengguncang bahwa sebelum 1900, Central Valley memiliki lebih dari empat juta acre lahan basah. Pada 1940, sekitar 85 persen telah hilang.

Hari ini, lebih dari 90 persen wetland kawasan itu telah musnah. Hal ini terutama akibat konversi pertanian dan pembangunan.

Restorasi kini menjadi agenda mahal dan kompleks. Pengalaman Sacramento seharusnya menjadi alarm bagi Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat masih memiliki sekitar 2,7 juta hektare lahan gambut yang merupakan salah satu cadangan terbesar di Indonesia. Gambut tropis bukan sekadar tanah basah, melainkan sistem ekologis unik yang menyimpan karbon luar biasa besar.

Berbagai studi menunjukkan bahwa gambut tropis dapat menyimpan sekitar 2.000–3.000 ton CO₂ ekuivalen per hektare. Dengan pendekatan konservatif, total cadangan karbon gambut Kalbar diperkirakan mencapai 5 hingga 8 miliar ton CO₂ ekuivalen.

Sebagai perbandingan, total emisi gas rumah kaca Indonesia dalam satu tahun berada pada kisaran ratusan juta ton CO₂ ekuivalen. Artinya, gambut Kalbar menyimpan karbon setara beberapa kali lipat emisi tahunan nasional.

 Usung Konsep Hutan Tropis, Edi Kamtono Yakin Kehadiran Pusaka Minang Dongkrak PAD dan Serap Tenaga Kerja

Ketika gambut tetap jenuh air, karbon itu terkunci aman. Namun saat dikeringkan untuk perkebunan, proses oksidasi melepaskan karbon ke atmosfer secara bertahap.

Tanah mengalami subsidensi dan risiko kebakaran meningkat drastis. Sekali terbakar, gambut dapat menyala berbulan-bulan dan menghasilkan emisi skala global.

Inilah yang menjadikan gambut sebagai “bom karbon” sekaligus “brankas karbon”. California pernah menganggap wetland sebagai lahan tak produktif.

Mereka mengeringkannya dan mengalihfungsikan kawasan rawa menjadi pertanian intensif. Dalam jangka pendek produksi memang meningkat, namun dalam jangka panjang masalah muncul.

Tanah gambut yang dikeringkan mengalami penurunan permukaan (subsidence) hingga beberapa meter. Sebagian wilayah Delta Sacramento–San Joaquin kini berada di bawah permukaan air sungai dan bergantung pada tanggul buatan.

Restorasi membutuhkan investasi ratusan juta bahkan miliaran dolar untuk mengembalikan fungsi ekologis yang hilang. Pesan yang dapat dipetik sangat sederhana.

Restorasi selalu lebih mahal daripada pencegahan. Kalimantan Barat saat ini masih berada pada posisi yang lebih baik dibanding California satu abad lalu.

Sebagian besar gambutnya masih utuh meskipun tekanan konversi tetap ada. Menjaga 2,7 juta hektare gambut Kalbar adalah kontribusi strategis nasional dan internasional dalam konteks FOLU Net Sink 2030.

Secara ekologis, gambut berfungsi sebagai pengatur hidrologi alami. Ia menyerap air saat musim hujan dan melepaskannya perlahan di musim kemarau.

Jika gambut rusak, pola aliran air berubah sehingga banjir menjadi lebih ekstrem. Selain itu, kekeringan akan terasa lebih panjang dan intens.

Dalam konteks Daerah Aliran Sungai Kapuas, stabilitas gambut sangat menentukan keseimbangan sistem hidrologi. Secara sosial-ekonomi, kebakaran gambut membawa dampak luas seperti gangguan kesehatan dan kerugian transportasi.

Pengalaman kebakaran besar pada 2015 menunjukkan biaya ekonomi jauh melampaui keuntungan jangka pendek konversi lahan. Secara fiskal, menjaga gambut adalah bentuk efisiensi anggaran.

Biaya pencegahan melalui tata kelola berbasis desa jauh lebih kecil dibanding biaya pemulihan pascabencana. Pertanyaannya kemudian: mengapa kita sering terlambat belajar?

Baca Juga: Ekonomi Kerakyatan dari Desa: Arsitektur Baru Pangan Indonesia

Jawabannya sering kali berkaitan dengan perspektif waktu. Keuntungan konversi lahan terlihat dalam hitungan tahun, namun kerugian ekologis baru terasa dalam dekade.

Cosumnes River Preserve menunjukkan bagaimana negara maju pun dapat salah langkah dalam membaca fungsi ekosistem. Mereka kini berinvestasi besar untuk mengembalikan fungsi yang dulu dianggap tidak penting.

Kalbar memiliki peluang berbeda untuk menjadi model pengelolaan gambut berkelanjutan. Langkah konkret yang perlu diperkuat meliputi perlindungan ketat terhadap gambut dalam dan restorasi kawasan terdegradasi.

Selain itu, perlu penguatan ekonomi alternatif berbasis paludikultur dan integrasi data karbon dalam perencanaan pembangunan. Skema insentif karbon dan pembiayaan berbasis hasil juga menjadi poin krusial.

Dalam konteks global, pasar karbon memberikan peluang baru. Namun prasyaratnya adalah tata kelola kredibel dan komitmen politik yang konsisten.

Ada satu pelajaran penting dari California mengenai momentum kebijakan yang bergantung pada kepemimpinan. Restorasi di sana berhasil karena didukung konsensus ilmiah dan kolaborasi antar-lembaga.

Bagi Kalbar, menjaga gambut memerlukan pendekatan lintas sektor yang kolaboratif. Gambut bukan hanya urusan kehutanan, tapi terkait kesehatan hingga ekonomi daerah.

Mengabaikan gambut berarti memindahkan beban risiko kepada generasi berikutnya. Di Cosumnes, burung-burung migran kembali setiap musim karena ekosistem yang sehat.

Apakah kita ingin anak cucu melihat gambut hanya sebagai catatan sejarah? Ataukah kita memilih menjadi generasi yang menjaga sebelum kehilangan?

Kalimantan Barat memiliki peluang langka belajar dari kesalahan wilayah lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Gambut Kalbar adalah aset strategis sebagai penyangga karbon global dan fondasi ketahanan regional.

Pilihan kebijakan hari ini menentukan apakah 2,7 juta hektare itu tetap menjadi “brankas karbon” atau sumber emisi. Alam memberi toleransi, tetapi tidak tanpa batas.

Sacramento telah membayar mahal untuk kehilangan 90 persen wetland-nya. Kalbar belum, sehingga kesempatan itu masih ada.

Dalam krisis iklim global, menjaga gambut bukan lagi pilihan moral semata. Ini adalah keputusan rasional dan strategis bagi masa depan Indonesia.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Guru Besar Universitas Tanjungpura

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.