Tetapi pesan tegas: sistem ini serius.
Saya membayangkan bagaimana hal serupa diterapkan di Indonesia dengan otonomi daerah, dengan dinamika politik lokal, dengan perbedaan kapasitas antarprovinsi.
Maka menjadi jelas: sebelum bicara harga karbon, kita harus membangun integritas kelembagaan.
Baca Juga: Pemprov Kalimantan Barat Tegaskan Upaya Pengurangan Emisi Karbon di Panggung Global
Dari Sacramento ke Nusantara
Kopi liberika di tangan saya terasa semakin dalam maknanya.
Liberika adalah simbol ketahanan ia tumbuh di tanah gambut, di lahan yang sering dianggap marginal. Namun dari sanalah aroma khas muncul.
Begitu pula Indonesia.
Seringkali kita merasa berada di posisi sulit antara tuntutan pembangunan dan tekanan iklim global. Namun justru di ruang itulah inovasi lahir.
GCFTF Indonesia tidak datang ke Sacramento untuk meniru mentah-mentah.
Kami datang untuk belajar arsitektur berpikir.
Bahwa pasar karbon bukan hanya soal offset atau lelang.
Ia adalah soal bagaimana negara membangun kepastian hukum, kepastian fiskal, dan kepastian arah.
Refleksi tentang Kepemimpinan
Pertemuan dengan Lauren Sanchez dan tim CARB memperlihatkan satu hal yang tak tertulis di slide presentasi: konsistensi lintas administrasi. Program ini lahir di bawah gubernur berbeda partai. Ia bertahan di tengah perubahan politik. Ia diuji oleh gugatan hukum.
Mengapa bisa?
Karena sejak awal ia dirancang sebagai sistem, bukan sebagai proyek. Indonesia juga membutuhkan keberanian serupa bahwa kebijakan karbon bukan agenda satu kementerian, bukan agenda satu periode pemerintahan, tetapi agenda bangsa.
Baca Juga: ESDM Siapkan Aturan Baru, Insentif Pajak Menanti Perusahaan Tambang yang Tekan Emisi Karbon
Penutup: Liberika dan Langit Biru
Ketika pertemuan usai, matahari Sacramento mulai merendah. Langit California tampak biru bersih hasil kerja panjang regulasi udara mereka selama puluhan tahun. Saya menatap cangkir kosong liberika.
Di dalamnya, pahit dan aroma telah menyatu. Seperti transisi energi: ada biaya, ada pengorbanan, ada ketidaknyamanan.
Tetapi jika diracik dengan tepat, ia menghadirkan keseimbangan baru. Indonesia memiliki hutan, memiliki energi surya, memiliki potensi angin, memiliki panas bumi, memiliki generasi muda yang sadar iklim. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk membangun sistem yang kokoh, transparan, dan berjangka panjang. Pasar karbon bukan tujuan akhir. Ia hanyalah salah satu alat.
Tetapi alat yang tepat dalam tangan yang tepat dapat membantu kita menjaga langit Nusantara tetap biru, hutan tetap berdiri, dan ekonomi tetap tumbuh.
Dan mungkin, suatu hari, di sebuah ruang pertemuan di Jakarta atau Pontianak, kita akan menyeruput liberika yang sama mengenang bahwa percakapan di Sacramento pernah menjadi salah satu titik tolak perjalanan panjang menuju Indonesia yang rendah karbon dan bermartabat.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Guru Besar Universitas Tanjungpura
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















