OPINI – Pagi itu, cahaya musim gugur menembus kaca tinggi Gedung CEPA (California Environment Protection Agency) di Sacramento. Udara California terasa sejuk, jauh berbeda dari lembap tropis Kalimantan atau Sumatera.
Di sudut ruang pertemuan, saya menyeruput pelan kopi liberika koptagul yang sengaja saya bawa dari tanah air aromanya kuat, pahitnya tegas, seperti pesan yang ingin kami bawa dalam kunjungan ini.
Baca Juga: Arsitektur Kelembagaan Nilai Ekonomi Karbon Daerah: Memisahkan Regulator, Layanan, dan Bisnis
Kami rombongan dari Kementerian Dalam Negeri dan GCFTF Indonesia disambut hangat oleh, Chair , bersama jajaran stafnya. Tema pertemuan sederhana namun sarat makna: Meeting on Carbon Market Design.
Tetapi percakapan hari itu jauh melampaui teknis pasar. Ia menyentuh soal keberanian politik, ketekunan birokrasi, dan kesabaran membangun sistem yang tidak runtuh oleh pergantian kekuasaan.
Pasar Karbon: Bukan Sekadar Angka
Di layar presentasi, grafik menurun menunjukkan cap tahunan yang semakin ketat. Satu allowance sama dengan satu ton COâ‚‚e. Angkanya jelas. Mekanismenya rinci. Prosesnya transparan. Namun yang paling menarik bukanlah algoritma lelang atau batas kepemilikan izin.
Yang menarik adalah filosofi di baliknya. Pasar karbon di California lahir bukan sebagai hukuman bagi industri. Ia dirancang sebagai instrumen disiplin ekonomi agar biaya karbon tidak lagi tersembunyi.
Carbon pricing bukan cambuk. Ia adalah cermin.
Ia memantulkan kembali kepada pelaku ekonomi: berapa sesungguhnya biaya dari setiap ton emisi yang dilepaskan ke atmosfer. Saya teringat Indonesia. Kita memiliki target NDC 31,89% (unconditional) dan 43,20% (conditional) pada 2030. Kita mengumumkan FOLU Net Sink 2030 sebesar -140 juta ton COâ‚‚e. Kita berbicara tentang Net Zero 2060. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: Apakah kita berani memberi harga pada karbon?
Arsitektur yang Tahan Uji
Di CEPA, kami mendengar bagaimana sistem dibangun perlahan. Ada tahun uji coba pelaporan.
Ada masa verifikasi sebelum perdagangan dimulai. Ada proses publik panjang sebelum aturan disahkan.
Bahkan ketika digugat oleh industri, oleh kelompok lingkungan, bahkan oleh pemerintah federal mereka menang bukan karena retorika, tetapi karena rekam jejak administratif yang kuat.
Di sana saya memahami satu pelajaran penting: Transisi energi bukan dimenangkan oleh pidato, tetapi oleh arsitektur hukum dan data yang rapi. Indonesia sering bersemangat melompat ke depan. Kita ingin cepat. Kita ingin langsung menghasilkan. Namun sistem yang tergesa sering rapuh ketika diuji. Pasar karbon bukan proyek dua tahun. Ia adalah komitmen lintas dekade.
Energi dan Realitas Politik
Sambil menyeruput liberika, saya merenung tentang ironi. Indonesia kaya hutan tropis. Sektor AFOLU menyumbang lebih dari 40% emisi kita, tetapi juga menjadi sumber harapan besar melalui FOLU Net Sink. Namun sektor energi sekitar 34–36% emisi nasional tetap menjadi simpul paling sensitif.
Batu bara masih dominan. Harga energi selalu politis. Pajak karbon pernah dirancang, lalu ditunda. Di ruang CEPA itu, saya menyadari bahwa setiap negara memiliki beban sejarahnya sendiri. California berhadapan dengan industri minyak yang kuat.
Indonesia berhadapan dengan ketergantungan energi murah untuk pertumbuhan. Pertanyaannya bukan apakah tantangan ada. Pertanyaannya adalah: apakah kita merancang sistem yang cukup bijak untuk mengelolanya?
Harga Karbon dan Harga Kepercayaan
Pasar karbon tidak hanya membutuhkan harga.
Ia membutuhkan kepercayaan.
Kepercayaan bahwa data emisi akurat.
Kepercayaan bahwa verifikasi independen.
Kepercayaan bahwa dana publik tidak disalahgunakan.
Kepercayaan bahwa masyarakat adat dan daerah tidak ditinggalkan.
Di CEPA, mereka menjelaskan tentang pelaporan publik, audit independen, mekanisme penegakan, hingga sanksi empat kali lipat bagi yang gagal memenuhi kewajiban.
Bukan sekadar hukuman.
















