OPINI –Di negeri dengan 280 juta rakyat disuguhi tontonan premium. Dua menteri adu argumen bak final lomba debat antar-fakultas. Bukannya serius ngurus negara, eh malah “berbalas pantun” di ruang publik.
Rakyat disuruh gelar tikar, duduk manis, nonton Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa versus Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Ini bukan FTV, ini kabinet. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Drama dimulai ketika Purbaya dalam sebuah forum mengaku heran. Katanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan belum merealisasikan anggaran pembangunan kapal.
Di forum itu ia bertanya, apakah sudah ada pengusaha yang menerima proyek pembangunan kapal dari KKP. Serempak dijawab, belum ada pesanan. Lalu meluncurlah kalimat yang nadanya antara prihatin dan gemas, “Kan aneh enggak masuk akal. Uangnya sudah saya keluarkan, order-nya enggak ada.”
Baca Juga: Mulyono, Pegawai Pajak, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK
Nuan bayangkan ekspresinya. Uang sudah dianggarkan, tapi galangan kapal masih menatap laut dengan tatapan kosong.
Purbaya mempertanyakan, apakah Kadin atau Kementerian Perindustrian kurang aktif.
“Kenapa KKP belum order ke sana, kan kita mendorong pertumbuhan ekonomi, uangnya sudah saya anggarin,” ujarnya.
Bahkan ia menambahkan dengan nada yang hampir puitis,
“Rugi saya Pak, utang-utang dialokasikan enggak dipakai.”
Menteri Keuangan curhat soal utang yang tak terserap, ini sudah seperti orang bayar katering tapi tamunya tak datang.
Tentu saja Menteri KP tidak tinggal diam. Sakti Wahyu Trenggono gerah. Katanya ia tidak mengerti dana proyek pembangunan kapal yang dimaksud Purbaya. “Saya enggak ngerti maksud Pak Purbaya? Kalau soal kapal, itu sumber pendanaannya dari pinjaman UK, dan sekarang masih berproses, mekanismenya juga sedang dibicarakan,” katanya pada Selasa (10/2/2026).
Plot twist, sumber dana dari pinjaman Inggris, dan yang mengeksekusi bukan KKP, melainkan Badan Logistik Pertahanan. KKP hanya memfasilitasi teknis dan tenaga kerja.
















