“Yang bisa disalahkan bukan tanamannya. Tetapi ekofisiologisnya sudah sesuai atau tidak? Ketika tidak ada kesesuaian inilah, kerusakan lingkungan terjadi. Ketidaksesuaian ekofisiologis itu bisa terjadi akibat aktivitas usaha ilegal,” tegas Rauf.
Rauf menambahkan bahwa pohon sawit dewasa memiliki kemampuan menyerap air hujan rata-rata 43.500 liter per hari.
Akar serabut yang rapat pada tegakan sawit juga membuat tanah menjadi gembur sehingga mampu berfungsi sebagai tandon air tanah alami.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, mengingatkan bahwa sektor perkebunan di Sumatra tetap harus mengedepankan aspek keberlanjutan.
Baca Juga: Perkembangan Percepatan Penanganan Darurat dan Pemulihan Bencana di Sumatra
Ia meminta pelaku industri memastikan setiap komoditas tertanam pada lahan yang memiliki kesesuaian ekologis.
“Jika aspek ekofisiologis diperhatikan, perkebunan sawit di seluruh Indonesia akan berkembang di tengah ekosistem lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Kacuk.
(*Sr)















