“Artinya, investasi di Bank Kalbar sangat menguntungkan. Semakin besar investasi, semakin besar saham, maka semakin tinggi pula return yang diperoleh,” jelas Rokidi.
Ia meyakini bahwa dengan performa keuangan yang solid, saham Bank Kalbar akan sangat diminati oleh investor publik jika pemerintah daerah memberikan izin. “Pasti banyak yang beli,” tegasnya.
Dorongan dari BEI ini juga sejalan dengan meningkatnya gairah pasar modal di Kalimantan Barat pada tahun 2026. Selain sektor perbankan, tercatat ada sekitar tiga perusahaan potensial lainnya di wilayah ini yang sedang dalam proses persiapan untuk masuk ke pasar modal.
Baca Juga: Bank Kalbar Siapkan Rp1 Triliun untuk KUR 2026, Cek Kategori dan Syarat Lengkapnya
Ardhy Anto berharap Bank Kalbar dapat mengikuti jejak bank pembangunan daerah lain yang telah lebih dulu melantai di bursa, seperti Bank Jawa Barat dan Bank Jawa Timur.
Dengan potensi keuntungan yang tinggi dan dukungan asistensi dari BEI, langkah Bank Kalbar untuk menjadi perusahaan terbuka diharapkan dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memberikan akses investasi yang lebih luas bagi masyarakat.
(*Red)
















