3. Judul Bombastis, Isi Nirfaedah (Clickbait Akut)
Di era digital, lalu lintas pembaca (traffic) memang penting. Namun, jika kamu konsisten membuat judul yang sensasional, memancing emosi, atau bahkan menipu pembaca karena isinya tidak relevan dengan judul, kredibilitasmu sedang dipertaruhkan.
Jurnalis profesional tahu bedanya judul menarik (catchy) dengan judul menipu (misleading).
Jika pembaca merasa tertipu setelah membaca tulisanmu, kepercayaan mereka tidak akan kembali.
4. Mengabaikan Keberimbangan (Cover Both Sides)
Salah satu dosa besar jurnalisme adalah keberpihakan yang tidak pada tempatnya.
Jika kamu menulis berita konflik atau sengketa tetapi hanya mewawancarai satu pihak saja karena “malas” atau memiliki preferensi pribadi, kamu telah gagal bersikap adil.
Kode Etik Jurnalistik mewajibkan pemberitaan yang berimbang.
Menghakimi seseorang lewat tulisan tanpa memberikan hak jawab adalah tanda ketidakprofesionalan yang nyata.
5. Merasa “Kebal” Karena Kartu Pers
Tanda terakhir adalah arogansi.
Jika kamu merasa kartu pers memberimu hak istimewa untuk melanggar aturan lalu lintas, memeras pejabat, meminta fasilitas gratis, atau bersikap kasar pada masyarakat, kamu adalah racun bagi industri pers.
Kartu pers adalah alat untuk bekerja melayani publik, bukan tameng untuk kepentingan pribadi.
Kerendahan hati (humility) adalah kunci untuk mendapatkan akses dan kepercayaan dari narasumber maupun masyarakat.
Baca Juga: Ingin Slow Living Tapi Berprofesi Sebagai Jurnalis? Simak Realita Pahit dan Peluangnya
(Mira)










