Faktakalbar.id, LIFESTYLE — Parentification sering kali terjadi secara halus dan tanpa disadari dalam keluarga yang sedang mengalami tekanan, baik secara ekonomi, kesehatan, maupun emosional.
Anak-anak yang mengalami hal ini sering terlihat “sangat dewasa” di mata orang lain, padahal mereka sedang kehilangan masa kecilnya karena harus menjadi penopang bagi orang tuanya.
Berikut adalah beberapa karakteristik pola asuh yang cenderung memicu fenomena parentification:
1. Menjadikan Anak sebagai Teman Curhat Emosional
Baca Juga: Realitas Psikologis: Dampak Tersembunyi Tumbuh dalam Keterbatasan Ekonomi
Orang tua yang mengalami kesulitan emosional namun tidak memiliki sistem pendukung (support system) sesama dewasa sering kali melimpahkan beban perasaannya kepada anak.
Secara ilmiah, ini disebut emotional parentification.
Ciri utamanya adalah ketika orang tua menceritakan masalah rumah tangga, konflik pernikahan, atau kecemasan hidup yang berat kepada anak dengan harapan mendapatkan penghiburan.
Anak kemudian merasa bertanggung jawab untuk menjaga suasana hati orang tuanya agar tetap stabil, yang sebenarnya melampaui kapasitas emosional mereka.
2. Ketergantungan pada Anak untuk Urusan Rumah Tangga yang Berat
Dalam bentuk instrumental parentification, anak diberikan tanggung jawab praktis yang seharusnya dilakukan orang dewasa secara terus-menerus.
















