2. Kelelahan Fisik dan Kurang Tidur
Kurangnya waktu istirahat secara drastis menurunkan kemampuan otak dalam meregulasi emosi.
Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur membuat amygdala bagian otak yang memproses emosi menjadi jauh lebih reaktif.
Dalam kondisi lelah yang ekstrem, otak kehilangan kendali untuk membedakan mana masalah besar dan mana masalah kecil.
Akibatnya, sistem saraf merespons kelelahan fisik tersebut dengan cara yang sama seperti merespons kesedihan mendalam.
3. Fluktuasi Hormon yang Signifikan
Hormon memainkan peran besar dalam suasana hati manusia.
Pada wanita, perubahan hormon selama siklus menstruasi (PMS), kehamilan, atau pascamelahirkan dapat memicu keinginan menangis secara tiba-tiba karena fluktuasi estrogen dan progesteron.
Namun, hal ini tidak hanya terjadi pada wanita. Perubahan kadar kortisol (hormon stres) yang mendadak pada siapa pun dapat memengaruhi neurotransmiter di otak seperti serotonin, yang bertanggung jawab atas perasaan bahagia dan tenang.
4. Gangguan Kecemasan atau Depresi Tersembunyi
Terkadang, keinginan menangis tiba-tiba merupakan gejala dari kondisi kesehatan mental yang lebih kronis, seperti gangguan kecemasan (anxiety) atau depresi.
Dalam kondisi ini, air mata muncul karena sistem saraf pusat berada dalam mode waspada yang terus-menerus.
Jika menangis tiba-tiba ini sering disertai dengan perasaan hampa, kehilangan minat pada hobi, atau perubahan pola makan, hal tersebut bisa menjadi indikator bahwa tubuh Anda sedang meminta bantuan lebih lanjut untuk memproses beban mental yang berat.
Jangan merasa bersalah jika Anda merasa ingin menangis tanpa alasan.
Biarkan air mata itu mengalir, karena secara biologis, menangis melepaskan oksitosin dan endorfin yang membantu menenangkan detak jantung dan memperbaiki suasana hati.
Namun, jika frekuensinya mulai mengganggu aktivitas harian, bicarakanlah dengan profesional atau orang kepercayaan untuk mendapatkan dukungan.
Baca Juga: Kenapa Semakin Dewasa Kita Semakin Malu Menangis? Ini 4 Jawabannya
(Mira)
















