Kondisi “tidak boleh gagal” ini menciptakan tingkat stres yang sangat tinggi.
Secara biologis, tubuh Anda terus-menerus memproduksi hormon kortisol (hormon stres) yang dapat menyebabkan kelelahan mental atau burnout lebih cepat dibanding rekan sebaya Anda.
4. Konflik Loyalitas vs Mobilitas Sosial
Ada tarikan kuat antara loyalitas kepada asal-usul (keluarga) dan kebutuhan untuk mobilitas vertikal (naik kelas sosial).
Sering kali, keluarga secara tidak sadar menarik Anda kembali ke lingkaran kemiskinan dengan tuntutan-tuntutan mendesak.
Secara sosiologis, individu yang mencoba memutus rantai kemiskinan sering dianggap “berubah” atau “lupa daratan” oleh lingkungannya.
Stigma ini menimbulkan luka mental berupa perasaan terasing dari keluarga sendiri.
5. Stres Kronis Akibat Kelangkaan (Scarcity)
Karena saat ini Anda masih dalam kondisi ekonomi sulit namun sudah harus mandiri secara penuh, Anda mengalami apa yang disebut scarcity-induced cognitive load.
Pikiran Anda habis digunakan untuk menghitung sisa uang untuk makan besok, biaya transportasi, dan kebutuhan mendesak lainnya.
Beban kognitif ini membuat Anda sulit untuk berpikir strategis jangka panjang, karena otak dipaksa untuk terus-menerus berada dalam mode bertahan hidup (survival mode).
Memutus rantai kemiskinan adalah perjuangan maraton yang melelahkan secara mental.
Menyadari bahwa Anda butuh “ruang napas” finansial untuk bisa benar-benar membantu keluarga di masa depan adalah pemikiran yang logis secara ekonomi, meski menyakitkan secara emosional.
Fokus pada kesehatan mental adalah kunci agar Anda tidak tumbang sebelum mencapai garis finish.
Baca Juga: Film Tunggu Aku Sukses Nanti: Potret Realita Tekanan Keluarga
(Mira)
















