OPINI – Koptagul kali ini semakin pahit. Kekalahan 4-5 (adu penaltu) dari Iran membuat negeri ini semakin sedih. Walau sedih, Timnas Futsal telah membuat negeri ini merasa bangga. Simak narasinya, wak!
Malam 7 Februari 2026 akan dikenang bukan sebagai malam kekalahan, tapi sebagai malam ketika harapan bangsa jatuh dengan cara paling menyakitkan. Indonesia Arena berdiri terang benderang, namun di dalamnya, ribuan hati justru gelap.
Skor 5–5 membeku di papan, seperti jam yang berhenti berdetak tepat sebelum mimpi menjadi nyata. Lalu adu penalti datang, ritual kejam yang tidak peduli seberapa tulus perjuangan seseorang. Iran menang 5–4. Seketika, satu bangsa belajar arti kalah yang paling perih. Kalah saat sudah sangat dekat dengan takdir terbaiknya.
Timnas futsal Indonesia malam itu bukan sekadar tim. Mereka adalah anak-anak yang memikul mimpi terlalu besar untuk bahu yang masih muda. Israr Megantara berlari seperti orang yang menolak menyerah pada sejarah, mencetak hat-trick seolah ingin merobek kitab lama yang menuliskan Iran sebagai raja abadi Asia.
Samuel Eko dan Reza Gunawan menambah gol, memperpanjang denyut nadi harapan. Tiga kali Indonesia unggul. Tiga kali pula Iran bangkit dengan napas tersengal. Bahkan raja pun gemetar jika dipaksa berlari terlalu lama.
Di pinggir lapangan, berdiri Héctor Souto, lelaki Spanyol yang malam itu menangis dalam bahasa Indonesia. Ia tak berteriak berlebihan. Tak memamerkan ego Eropa. Ia hanya memeluk taktik, disiplin, dan kepercayaan.
Di tangannya, futsal Indonesia tidak diajari takut pada nama besar. Iran bukan mitos. Jepang bukan kutukan. Mereka hanyalah lawan yang bisa dilukai, dan malam itu, mereka benar-benar terluka.
Ironi paling pahit datang ketika kita menoleh ke cabang olahraga yang paling sering kita puja, sepak bola.
Di sana, drama lebih banyak dari gol. Naturalisasi menjelma jalan pintas. Pelatih datang dan pergi seperti tamu tak diundang. Harapan dijual mahal, hasil datang murah. Sementara futsal, sunyi, sederhana, tanpa gembar-gembor, justru membawa bangsa ini ke gerbang sejarah.
Para pemain futsal itu lahir di tanah ini. Tumbuh di lapangan yang sama dengan anak-anak kampung. Mereka makan dari dapur rakyat, berdoa dengan bahasa yang sama.
















