Katanya, banyak yang masuk Islam gara-gara ceramah beliau. Madrasah al-Qadiriyyah berdiri, dan murid-muridnya menyebar ke mana-mana. Salahuddin Ayyubi saja dengar nama beliau. Ini bukan ustaz musiman.
Ajarannya sederhana tapi ngeri. Dunia jangan terlalu dicintai, nafsu jangan dimanja, ibadah jangan setengah-setengah. Sufisme menurut beliau bukan pakai baju robek sambil melamun, tapi disiplin keras, mirip pelatihan pasukan elit, cuma musuhnya adalah diri sendiri.
Soal kehendak bebas, beliau cenderung bilang, “Udah, serahkan saja ke Allah.” Ego manusia disuruh minggir, jangan sok jago.
Beliau wafat tahun 1166 M di Baghdad, usia 91 tahun. Makamnya jadi tempat ziarah, sempat dihancurkan, dibangun lagi, dihancurkan lagi, dibangun lagi.
Seolah sejarah pun bilang, “Yang ini jangan dihapus.” Hingga hari ini, tarekat Qadiriyyah masih hidup, dan nama beliau masih disebut di tahlilan, yasinan, dan doa-doa orang kampung.
Baca Juga: Edi Kamtono: ASN Harus Seimbangkan Kerja dan Ibadah
Jadi wak, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani itu bukan sekadar nama yang dihafal otomatis. Beliau itu simbol.
Simbol orang biasa dari kampung Persia, belajar serius, ngalahin egonya sendiri, lalu namanya dipakai umat Islam ratusan tahun kemudian. Kalau itu bukan prestasi spiritual kelas berat, entah apa lagi.
Allahumma inna natawassalu ilayka bisayyidina al-syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani, an taghfira lana dhunubana, wa taqdhiyya hawaijana, wa tufarrija kurubana, wa tuthabbita qulubana ‘ala dinika, wa taj‘alana min awliya’ika al-shalihin. Alfatihah.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.










