Ferdowsi dengan Shahnameh menjaga identitas Persia pra-Islam lewat 50 ribu bait. Saadi dan Omar Khayyam melengkapi daftar utang budaya dunia pada Iran. Kalau ada liga Champions sastra abad pertengahan, Persia itu Real Madrid-nya.
Mongol datang, kota dibakar, jutaan tewas. Dunia kembali teriak “habis.” Tapi Ilkhanate Mongol justru berubah jadi pelindung seni dan budaya Persia. Ottoman gagal menelan Iran.
Inggris dan Rusia cuma bisa main pengaruh, tak pernah menjadikannya koloni penuh. Alam Iran keras. Pegunungan Zagros dan Elburz, gurun Dasht-e Kavir dan Lut, invasi ke sana sama saja main futsal tanpa sepatu. Irak mencoba 1980, delapan tahun perang, hasilnya nihil.
Di era modern, diaspora Iran di sains dan teknologi jadi legenda. Pierre Omidyar (eBay), Dara Khosrowshahi (Uber), Arash Ferdowsi (Dropbox), saudara Partovi (Code.org).
Maryam Mirzakhani mengangkat Fields Medal, Nima Arkani-Hamed jadi fisikawan teori kelas dunia. Per kapita, kontribusi Iran di sains dan teknologi global itu ngeri.
So, benarkah Iran banyak melahirkan ilmuwan hebat dunia? Jawabannya bukan sekadar “iya”, tapi iya, dan sejak ribuan tahun lalu. Besok, di lapangan futsal, kita tentu berdiri penuh di belakang Timnas.
Berani, percaya diri, dan pantang minder. Tapi memahami Iran sebagai bangsa juga bikin kita sadar. Ini bukan cuma final olahraga, ini pertemuan dua cerita besar.
Di lapangan, bola itu bundar. Siapa pun bisa menang. Kalau sejarah Persia mengajarkan satu hal, jatuh bukan akhir. Bangkit itu tradisi. Indonesia pun sedang menulis babnya sendiri.
“Biasanya, kalau abang nulis soal Iran, dituduh agen Mossad atau CIA ni.”
“Kali ini, nampaknya tidak, wak.” Ups.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















