Opini  

Benarkah Iran Banyak Melahirkan Ilmuwan Hebat Kelas Dunia?

Ilustrasi - Al-Khawarizmi, Bapak Aljabar yang berasal dari Iran. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Al-Khawarizmi, Bapak Aljabar yang berasal dari Iran. (Dok. Ist)

OPINI – Saya sering membaca ungkapan netizen di kolom komentar. “Iran itu bangsa yang susah ditaklukan oleh negara mana pun.” “Orang Iran itu pintar-pintar.” Benarkah demikian? Mari kita ungkap sambil seruput koptagul, wak!

Dulu namanya Persia. Di zaman modern berubah menjadi, Iran. Bangsa yang kayaknya punya kontrak tak tertulis sama waktu. “Kami boleh tumbang. Tapi punah? Jangan ngimpi.”

Malam ini, bangsa yang satu ini bakal berdiri di hadapan Timnas futsal Indonesia di partai final Piala Asia.

Di lapangan mereka lawan serius. Di luar lapangan, khususnya di sejarah peradaban, Iran itu lawan kelas berat yang pantas dikenal, bukan cuma ditakuti.

Baca Juga: Jadwal Final Piala Asia Futsal 2026: Indonesia vs Iran Malam Ini, Misi Garuda Muda Patahkan Dominasi Asia

Ribuan tahun lalu, Persia sudah bikin kekaisaran yang bikin tetangga minder akut. Cyrus the Great bukan tipe penakluk barbar. Orang ini malah kayak pejabat HAM zaman purba.

Orang Yahudi dibebaskan, disuruh pulang, kuil dibangun lagi. Dunia masih sibuk bantai-bantaian, Persia sudah mikir toleransi.

Lalu datang Alexander the Great, bakar Persepolis, sambil mikir, “Udahan ini.” Eh, yang ada malah kebalik. Budaya Persia nyerap Hellenistik, dicerna pelan-pelan, lalu bangkit lagi di era Parthia dan Sassanid.

Abad ke-7, Arab Muslim datang. Kekaisaran Sassanid tumbang, banyak yang mengira Persia tamat. Nyatanya? Mereka cuma ganti kostum.

Bahasa Arab dipakai buat ilmu pengetahuan, karena itu bahasa internasional. Tapi, Farsi tetap jadi napas identitas dan sastra.

Dari sinilah lahir deretan ilmuwan yang bikin dunia modern berdiri. Al-Khwarizmi (aljabar dan algoritma), Ibn Sina (kitab medis rujukan Eropa sampai abad ke-17), Al-Razi (pembedaan cacar dan campak), Al-Biruni (pengukuran radius bumi super akurat), Nasir al-Din al-Tusi (fondasi trigonometri modern).

Kalau dihitung-hitung, sekitar 70–80 persen ilmuwan besar Zaman Keemasan Islam berasal dari wilayah Persia. Arab membawa agama dan semangat, Persia menyumbang otak dan estetika. Ini kombinasi yang bikin peradaban meledak.

Sastranya? Ini bukan sekadar karya tulis, ini candu jiwa. Rumi sampai hari ini jadi penyair paling laris di Barat. Hafez dipakai orang Iran buat ramal nasib, tarot versi puitis.