Opini  

Kurang Bedebah Apa Lagi Negeri Ini, Wakil Tuhan pun Ditangkap

KPK tangkap Wakil Ketua PN Depok. Ironi "Wakil Tuhan" yang terjerat suap di tengah pesta kemenangan Timnas Futsal. (Dok. Ist)
KPK tangkap Wakil Ketua PN Depok. Ironi "Wakil Tuhan" yang terjerat suap di tengah pesta kemenangan Timnas Futsal. (Dok. Ist)

Tikus got paling menjijikkan bukan karena ia kotor, tapi karena ia berpura-pura suci. Ia berjalan di ruang sidang seolah malaikat, padahal jantungnya berdetak mengikuti aroma uang.

Ia berbicara tentang sumpah jabatan, tapi sumpah itu baginya cuma seperti kertas tisu di selokan dipakai sebentar, lalu dibuang. Tikus ini menggigiti fondasi peradilan sedikit demi sedikit, sampai bangunan keadilan roboh tanpa suara, dan rakyat cuma kebagian puingnya.

Netizen pun muak. Timeline penuh muntahan emosi. “Hakim kok tikus,” kata mereka. “Gaji besar tapi masih menggerogoti,” teriak yang lain. “Wakil tuhan bisa ya ditangkap, emang udah parah negeri kita,” teriak suporter futsal.

Karena memang begitulah tikus got, diberi apa pun tak pernah cukup. Semakin tinggi jabatannya, semakin dalam ia menyelam ke lumpur. Semakin suci topengnya, semakin busuk perutnya.

Akhirnya tikus itu diseret keluar sarangnya. Dari gorong-gorong kekuasaan ke kandang KPK. Tidak lagi berwibawa, hanya makhluk menjijikkan yang meronta karena cahaya.

Baca Juga: Korupsi Kuota Haji: KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Alex sebagai Saksi

Semoga publik ingat, peradilan yang dibiarkan dipenuhi tikus tidak akan melahirkan keadilan, hanya wabah. Maka jangan berhenti muak. Jangan berhenti marah.

Karena koruptor seperti ini bukan sekadar pelanggar hukum, mereka adalah hama yang harus dibasmi agar negeri ini tidak terus hidup di got yang sama.

“Abang ni, baru jak dibuat senang, terhibur oleh kemenangan timnas futsal membantai Jepang 5-3, eh dibuat marah pula.”

“Ya, mau gimana lagi, wak. Inilah negeri kita yang selalu dibilang kaya. Tenang, kalau nanti menang lawan Iran di final, Trump si rambut jagung, akan menarik kapal induknya, wak.” Ups.

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.