Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Program perbaikan rumah tidak layak huni yang digagas Presiden Prabowo Subianto, atau yang populer dengan istilah “Gentengi”, menarik perhatian publik.
Istilah ini bukan sekadar jargon, melainkan sebuah standar baru bagi kelayakan hidup masyarakat Indonesia.
Selama puluhan tahun, penggunaan atap seng atau asbes menjadi solusi instan bagi hunian ekonomis.
Namun, dorongan pemerintah untuk beralih ke atap genteng (tanah liat/keramik/beton) memiliki alasan kuat terkait kesehatan dan kenyamanan termal.
Baca Juga: Manuver Dini Jelang 2029: PAN Dorong Zulhas Dampingi Prabowo dengan Dalih ‘Mesin Partai’
Lantas, apa sebenarnya perbedaan mendasar antara kedua material ini? Mengapa genteng dianggap lebih “manusiawi” untuk iklim tropis dibandingkan seng? Berikut bedah plus-minusnya.
1. Kenyamanan Termal: Siapa Lebih Adem?
















