“Selama emosi tinggi hanya muncul saat situasi tertentu, seperti ketika ditagih utang, dan tidak terjadi terus-menerus, itu masih termasuk respons stres normal,” tambahnya.
Fenomena ini dikelompokkan sebagai acute stress response atau reaksi normal tubuh saat menghadapi tekanan mendadak.
Namun, kondisi ini perlu diwaspadai jika kemarahan sulit dikendalikan, mengganggu relasi sosial, atau disertai gejala lain seperti gangguan tidur berat.
Baca Juga: Dewasa yang ‘Baterainya’ Awet: Benarkah Karena Tumbuh di ‘Keluarga Cemara’? Ini Kata Psikologi
Pengaruh Penagih dan Solusinya
Reaksi emosional juga dipengaruhi oleh siapa yang menagih. Jika penagih adalah teman dekat, reaksi yang muncul biasanya didasari rasa malu dan tersinggung.
Sebaliknya, jika dilakukan oleh debt collector, situasi dipersepsikan sebagai ancaman langsung.
Untuk menghadapi debitur yang emosional, dr. Riati menyarankan agar penagih tidak membalas dengan tekanan.
“Pendekatan yang lebih efektif adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada rendah, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama,” sarannya.
“Orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar. Itu justru bisa mencegah masalah menjadi lebih besar,” pungkasnya.
(Natash)
















