Atasi Krisis Dokter, Menkes Tunjuk RSUD Soedarso Jadi Pusat Pendidikan Spesialis: Gratis dan Prioritas Putra Daerah

"Menkes Budi Gunadi Sadikin tunjuk RSUD Soedarso jadi pusat pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based). Program ini gratis dan prioritaskan putra daerah Kalbar mulai Juni 2026."
Menkes Budi Gunadi Sadikin tunjuk RSUD Soedarso jadi pusat pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based). Program ini gratis dan prioritaskan putra daerah Kalbar mulai Juni 2026.Menkes Budi Gunadi Sadikin tunjuk RSUD Soedarso jadi pusat pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based). Program ini gratis dan prioritaskan putra daerah Kalbar mulai Juni 2026. (Dok. Mira/Faktakalbar)

Faktakalbar.id, KUBU RAYA – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, membawa solusi konkret untuk mengatasi krisis kekurangan dokter spesialis, khususnya dokter anestesi dan spesialis anak di Kalimantan Barat.

Dalam kunjungan kerjanya di RSUD Kubu Raya, Jumat (6/2/2026), Menkes menegaskan akan menjadikan RSUD Dr. Soedarso sebagai pusat pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based).

Langkah ini diambil untuk memangkas birokrasi dan biaya pendidikan dokter spesialis yang selama ini dinilai sulit diakses oleh dokter-dokter di daerah.

“Kita sekarang meluncurkan program yang namanya hospital-based. Jadi pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit. Kita sudah ajukan untuk menjadikan Rumah Sakit Soedarso sebagai pusat pendidikan hospital-based,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Baca Juga: Naik Tipe C, Sujiwo Tekankan Status Baru RSUD Kubu Raya Harus Linier dengan Kualitas Layanan

Prioritas Putra Daerah dan Bebas Biaya

Menkes menjelaskan perbedaan mendasar antara sistem university-based (berbasis universitas) yang selama ini berjalan dengan hospital-based.

eunggulan utamanya terletak pada sistem rekrutmen yang memberikan “karpet merah” bagi putra-putri asli daerah.

“Bedanya apa? Bedanya rekrutmen. Rambu-rambunya adalah putra-putri asli daerah. Kalau yang university-based, misalnya orang-orang yang mau belajar di Jakarta, ya susah, dia bersaing dengan anak-anak Jakarta,” tegasnya.

Selain akses yang lebih mudah, Budi memastikan program ini tidak memungut biaya alias gratis. Hal ini diharapkan membuka peluang bagi dokter berprestasi yang terkendala biaya untuk mengambil spesialisasi.