Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di tengah gempuran kecemasan akan masa depan (quarter life crisis) yang melanda generasi muda, novel karya J.S. Khairen berjudul “Kami (Bukan) Sarjana Kertas” hadir sebagai tamparan sekaligus pelukan hangat.
Buku ini bukan sekadar fiksi.
Ia adalah cermin retak dari wajah pendidikan tinggi di Indonesia yang sering luput dari sorotan.
Kisahnya tentang tujuh mahasiswa “buangan” di kampus yang nyaris tutup, Kampus UDEL, menjadi representasi jutaan mahasiswa Indonesia yang tidak berkuliah di kampus top tier.
Baca Juga: Jangan Asal Didik! Ini 5 Rekomendasi Buku Parenting yang Wajib Dibaca Orang Tua
Mengapa buku ini begitu fenomenal dan dianggap sangat nyata? Berikut adalah 6 fakta dari buku “Kami (Bukan) Sarjana Kertas” yang menelanjangi realita pendidikan dan dunia kerja di Indonesia:
1. Potret Kampus “Ruko” dan Fasilitas Seadanya
Jika novel remaja lain sering mengambil latar kampus elit dengan gedung megah, J.S. Khairen justru memotret realita “Kampus UDEL”.
Kampus yang bocor, dosen yang jarang masuk, dan fasilitas menyedihkan.
Ini adalah fakta pahit di Indonesia. Tidak semua mahasiswa beruntung masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) favorit.
Banyak yang terpaksa kuliah di kampus swasta kecil dengan kualitas seadanya hanya demi mendapatkan gelar. Buku ini mewakili suara mereka yang sering dipandang sebelah mata.
2. Sindiran Keras Mentalitas “Asal Lulus”
Istilah “Sarjana Kertas” adalah metafora jenius.
Ini menyindir mahasiswa yang kuliah hanya demi selembar ijazah (kertas), tanpa memiliki skill atau integritas (kualitas).
Realita di Indonesia menunjukkan banyak mahasiswa yang menjadi “zombie” di kelas datang, duduk, diam, pulang hanya demi menggugurkan kewajiban orang tua.
Buku ini mengingatkan bahwa ijazah hanyalah kertas tak bernyawa jika pemegangnya tidak memiliki kompetensi untuk menghidupinya.
3. Kesenjangan Teori dan Dunia Nyata
Salah satu konflik utama dalam buku ini adalah betapa gagapnya mahasiswa saat dihadapkan pada masalah dunia nyata.
Kurikulum yang kaku sering kali tidak relevan dengan kebutuhan industri.
J.S. Khairen menggambarkan bagaimana para tokohnya harus belajar keras dari “universitas kehidupan” di luar kelas untuk bisa bertahan hidup.
Ini sangat relate dengan banyaknya fresh graduate yang merasa “salah jurusan” atau bingung harus melakukan apa setelah wisuda.
4. Kisah “The Underdog” yang Berjuang dari Bawah
Tokoh-tokoh dalam buku ini bukanlah anak orang kaya.
Mereka harus membagi waktu antara kuliah, bekerja serabutan, dan menghadapi masalah keluarga.
Fakta ini sangat Indonesia sekali.
Data menunjukkan banyak mahasiswa di Indonesia yang berjuang menjadi sandwich generation, menanggung beban ekonomi keluarga sambil mengejar pendidikan.
Buku ini memvalidasi perjuangan mereka bahwa sukses tidak harus instan dan mulus.
5. Peran Dosen yang Mengubah Hidup
Meski mengkritik sistem, buku ini juga menghadirkan sosok dosen yang inspiratif (Bu Lira).
Ini adalah fakta bahwa di tengah sistem pendidikan yang terkadang bobrok, selalu ada sosok pendidik yang tulus dan mampu mengubah mindset mahasiswanya.
Pesan ini penting: bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung, tapi soal manusia yang mengajar dan diajar.
Satu dosen yang peduli bisa menyelamatkan masa depan mahasiswa yang hampir putus asa.
6. Redefinisi Makna Sukses
Pada akhirnya, buku ini mengajarkan bahwa menjadi sarjana bukan jaminan sukses, dan tidak menjadi sarjana bukan berarti gagal.
Sukses didefinisikan ulang bukan sebagai jabatan tinggi atau gaji besar, melainkan kebermanfaatan dan kemampuan untuk bangkit dari kegagalan.
Di era di mana media sosial sering memamerkan kesuksesan instan (flexing), buku ini menjadi “obat penenang” bahwa setiap orang punya zona waktunya masing-masing.
“Kami (Bukan) Sarjana Kertas” adalah bacaan wajib bagi mahasiswa, dosen, bahkan orang tua.
Ia membuka mata bahwa pendidikan Indonesia masih punya banyak PR, dan tugas kitalah untuk memastikan diri tidak sekadar menjadi “Sarjana Kertas”.
(Mira)
















