FKDM Kalbar Soroti Insiden Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya, Desak Evaluasi Pola Pendidikan

FKDM Kalbar soroti Insiden Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya.
FKDM Kalbar soroti Insiden Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Peristiwa mengejutkan terkait Insiden Bom Molotov yang melibatkan seorang siswa di SMP Negeri 3 Kubu Raya pada Selasa (3/2) memantik perhatian serius dari berbagai kalangan.

Kejadian ini dinilai menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Kalimantan Barat, khususnya mengenai urgensi pembinaan karakter, kesehatan mental, dan pengawasan intensif terhadap peserta didik.

Baca Juga: Libatkan Densus 88 dan KPAI, Kapolda Kalbar Tegaskan Hukum Jadi Langkah Terakhir Kasus Pelemparan Bom Molotov

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian nekat yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut.

Menurutnya, aksi kekerasan yang menggunakan alat berbahaya ini tidak bisa dipandang sebagai kenakalan remaja biasa, melainkan indikasi adanya masalah fundamental yang harus segera ditangani.

“Ini sangat memprihatinkan. Ketika pelajar sudah terlibat dalam tindakan berbahaya seperti pelemparan bom molotov, maka ini menjadi tanda bahwa ada persoalan mendasar yang harus segera dibenahi di dunia pendidikan,” ujar Muhamad Sani, Rabu (4/2/2026).

Sani menegaskan bahwa tanggung jawab pembinaan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.

Diperlukan kolaborasi aktif antara keluarga, pihak sekolah, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum untuk mencegah kejadian serupa terulang.

“Penanganannya tidak bisa hanya sebatas proses hukum. Pembinaan mental, karakter, dan pengawasan terhadap anak-anak kita harus diperkuat. Dunia pendidikan wajib menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan,” tegasnya.

Menyoroti dari sisi psikologi pendidikan, Sani menilai perilaku ekstrem yang ditunjukkan pelajar sering kali merupakan akumulasi dari masalah psikososial yang terpendam dan tidak tertangani dengan baik sejak dini.

Faktor lingkungan rumah dan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap kestabilan emosi anak.