Teror Molotov di SMPN 3 Sungai Raya: Potret Kelam Bullying dan Infiltrasi Ideologi Ekstrem di Sekolah

"Densus 88 ungkap siswa SMP pelempar molotov di Kubu Raya terpapar grup ekstrem True Crime Community. Motif dendam akibat bullying dan masalah keluarga jadi pemicu."
Densus 88 ungkap siswa SMP pelempar molotov di Kubu Raya terpapar grup ekstrem True Crime Community. Motif dendam akibat bullying dan masalah keluarga jadi pemicu. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, KUBU RAYA – Insiden pelemparan bom molotov oleh seorang siswa di SMPN 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, membuka kotak pandora mengenai betapa rapuhnya perlindungan anak dari paparan radikalisme digital.

Temuan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengonfirmasi bahwa aksi nekat tersebut bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan hasil infiltrasi ideologi kekerasan ekstrem melalui grup daring.

Fakta ini menjadi tamparan keras bagi sistem pendidikan dan pengawasan orang tua.

Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka, mengungkapkan bahwa pelaku yang masih di bawah umur tersebut telah terpapar konten kekerasan dari sebuah komunitas bernama True Crime Community (TCC).

Baca Juga: Libatkan Densus 88 dan KPAI, Kapolda Kalbar Tegaskan Hukum Jadi Langkah Terakhir Kasus Pelemparan Bom Molotov

Komunitas ini disinyalir menjadi wadah bagi pelaku untuk mengonsumsi konten kekerasan yang kemudian memicu inspirasi untuk merakit dan menggunakan bom molotov.

Dendam Akibat Bullying yang Tak Terdeteksi

Kasus ini juga menelanjangi kegagalan mekanisme pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Motif utama pelaku melakukan aksi teror tersebut adalah keinginan balas dendam akibat perundungan yang dialaminya dari rekan-rekan sekolah.

Eskalasi dari korban perundungan menjadi pelaku teror bom molotov menandakan adanya pengabaian atau ketidakmampuan pihak sekolah mendeteksi konflik antar-siswa sebelum berubah menjadi ancaman mematikan.

“Yang bersangkutan merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan melakukan balas dendam kepada rekan-rekan yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya,” jelas Mayndra.

Celah Pengawasan Keluarga

Di sisi lain, kerentanan psikologis pelaku diperparah oleh kondisi domestik yang luput dari perhatian.

Kapolda Kalbar, Irjen Pipit Rismanto, menyebutkan bahwa pelaku mengalami tekanan mental berat karena masalah keluarga, di mana kakek dan ayahnya sedang sakit.

Kondisi rumah yang tidak stabil ini diduga menjadi celah masuknya pengaruh ekstrem dari dunia maya.

Absennya pendampingan psikologis yang memadai membuat siswa tersebut mencari pelarian ke komunitas daring yang justru mengajarkan kekerasan sebagai solusi penyelesaian masalah.

Saat ini, aparat kepolisian dan Densus 88 fokus pada pendekatan pembinaan mengingat status pelaku sebagai anak di bawah umur.