OPINI – Malam minggu. Di luar sana, anak muda sedang negosiasi antara kopi susu gula aren dan janji setia yang belum tentu ditepati. Di rumah kakak, saya beserta keluarga besar menggelar tahlilan untuk wafatnya ayah dan ibu.
Dari pihak istri, untuk ibu mertua yang sudah lama wafat. Dari pihak kakak, mama mertuanya. Inilah malam haul. Malam ketika dunia fana kami pause sejenak, lalu akhirat diajak duduk bareng, ngopi, dan ikut tahlilan.
Baca Juga: Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor 1,2 Miliar
Datanglah jamaah masjid, tetangga kiri-kanan, handai taulan, lengkap dengan segala variannya. Ada yang suaranya merdu seperti muazin istana, ada yang bacaannya ngos-ngosan tapi penuh kejujuran. Semua larut dalam yasin, tahlil, dan doa. Lalu klimaksnya tiba, besek. Nasi kotak yang dibungkus plastik untuk dijinjing. Jangan remehkan besek. Dalam filsafat sosial Nusantara, besek adalah simbol teologi praktis. Iman bertemu nasi, zikir bersalaman dengan lauk. Di situlah Islam membumi, tidak melayang-layang di awang-awang.
Di tengah kekhidmatan itu, muncul pertanyaan legendaris, pertanyaan yang diwariskan turun-temurun seperti golongan darah. “Emang doanya sampai ke almarhum?” Ini pertanyaan serius, tapi sering dibungkus nada sok rasional. Kalau mau jujur, ini pertanyaan yang salah alamat. Doa bukan sinyal WiFi yang tergantung kekuatan router dan jarak kuburan. Doa itu wilayah ketuhanan, bukan wilayah teknisi jaringan.
Kalau didekati secara ilmiah, tentu buntu. Tidak ada alat ukur untuk mendeteksi pahala. Tidak ada sensor untuk mengukur luas kubur setelah dibacakan tahlil. Ilmu pengetahuan berhenti di depan gerbang ghaib sambil angkat tangan, “Maaf, ini di luar silabus kami.” Tapi justru di situlah iman bekerja. Islam sejak awal sudah mengakui keterbatasan rasio manusia. Ada wilayah yang harus diterangi wahyu, bukan disenter logika saja.
Baca Juga: Tim Airlangga dan Seni Mengetuk Pintu Dinas Tanpa Proposal Tebal
Dalam Islam, doa untuk orang yang telah wafat itu bukan barang baru. Nabi mengajarkan doa untuk jenazah, para sahabat mendoakan yang meninggal, dan Alquran sendiri merekam doa orang-orang beriman untuk generasi sebelum mereka. Ide dasarnya jelas, yang hidup boleh dan dianjurkan mendoakan yang wafat. Soal apakah doa itu “sampai” atau “tidak”, itu hak prerogatif Allah, bukan hak voting netizen.
Lalu datanglah bab paling panas, “Bang, itukan bid’ah.” Kata ini memang sakti. Sekali diucap, langsung bikin sebagian orang merasa paling lurus se-RT. Padahal dalam khazanah Islam, bid’ah itu bukan sekadar “tidak pernah dilakukan Nabi”, tapi perkara baru yang bertentangan dengan prinsip agama. Tradisi tahlilan bagi NU justru dipandang sebagai wadah, bukan ibadah baru yang mengganti syariat. Isinya? Zikir, doa, sedekah, silaturahmi. Semua ini barang lama, cuma dikemas dengan budaya lokal.













