Opini  

Cinta yang Tidak Takut Ditertawakan

Ilustrasi prosesi ijab kabul nikah di kantor urusan agama. (Dok. Ist)
Ilustrasi prosesi ijab kabul nikah di kantor urusan agama. (Dok. Ist)

Namun cinta jarang peduli pada kelaziman.

Ahmad menunggu. Ia bekerja. Ia bertahan. Orang tuanya merestui. Sisri akhirnya percaya. Mereka menikah siri tahun 2021, diam-diam, penuh keyakinan. Tidak banyak yang tahu, tapi mereka tahu satu sama lain, dan itu cukup.

Kini, mahar Rp200 ribu mengesahkan apa yang sudah lama sah di hati. Kepala KUA mendoakan sakinah, mawaddah, warahmah. Doa yang sering terdengar, tapi kali ini terasa benar-benar sampai.

Ahmad jatuh cinta karena perhatian. Karena Sisri peduli pada dirinya dan keluarganya. Dalam dunia yang gemar pamer cinta, Ahmad memilih cinta yang bekerja diam-diam.

Sisri kini bukan sekadar perempuan dengan masa lalu panjang. Ia adalah istri. Ahmad bukan lagi pemuda yang dipertanyakan niatnya. Ia adalah suami. Mereka tidak sejajar dalam umur, tapi sejajar dalam kesungguhan.

Di Ponorogo, cinta kembali memberi pelajaran paling sederhana sekaligus paling sulit. Bahwa hati tidak membaca KTP. Bahwa bahagia tidak perlu izin publik. Bahwa pulang, pada orang yang tepat, adalah bentuk keajaiban paling masuk akal di dunia ini.

Kalau ente tersenyum pelan di akhir kisah ini, itu bukan kebetulan. Itu tanda, cinta mereka sempat singgah sebentar di hati kita.

Baca Juga: KPK Beberkan Peran Eks Menag Yaqut dalam Kasus Korupsi Kuota Haji 2024

Oleh: Rosadi Jamani

(Ketua Satupena Kalbar)

 *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.