OPINI – Nuan bayangkan, 500 juta CCTV, melebihi penduduk negeri ini. Apa pun aktivitas warga bisa dipantau oleh negara. Sayangnya, bukan rakyat yang berkhianat, melainkan elit di lingkaran istana. Itulah China hari ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di negeri yang membangun Tembok Besar untuk menahan musuh dan menyimpan rahasia di balik dinding Kota Terlarang, kekuasaan jarang runtuh dengan suara gaduh. Ia retak seperti porselen Dinasti Ming yang halus, nyaris tak terdengar, tetapi sekali pecah, serpihannya melukai seluruh istana.
Baca Juga: Amerika Berhenti Jadikan China Musuh Utama
Sabtu, 24 Januari 2026, retakan itu diumumkan secara resmi. Kementerian Pertahanan China menyatakan Jenderal Zhang Youxia diselidiki atas “pelanggaran disiplin dan hukum yang sangat serius.” Dalam kamus politik Beijing, kalimat ini bukan klarifikasi, melainkan vonis pendahuluan.
Zhang Youxia bukan nama pinggiran. Usia 75 tahun, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, anggota Politbiro Partai Komunis China, dan orang nomor dua di rantai komando Tentara Pembebasan Rakyat, tepat di bawah Xi Jinping.
Ia dikenal sebagai sekutu terdekat Xi di militer dan satu dari sedikit jenderal elite China yang memiliki pengalaman tempur nyata. Selama bertahun-tahun, Zhang diperlakukan seperti patung terakota hidup yang diam, kokoh, dan seolah abadi.
Terakhir kali ia muncul di ruang publik pada November 2025. Saat itu berada di Moskow bertemu Vladimir Putin dan para pejabat tinggi militer Rusia. Foto-foto itu kini terasa seperti artefak dari dunia lama. Setelah itu, Zhang menghilang.
Lalu muncul tuduhan yang mengguncang. Korupsi, suap promosi jabatan, pelanggaran serius disiplin Partai. Yang paling eksplosif, dugaan kebocoran rahasia nuklir China kepada Amerika Serikat. Jika ini terbukti, maka yang bocor bukan sekadar dokumen, melainkan mandat langit yang menopang kekuasaan.
Baca Juga: Pasca Operasi Caracas, Kapal Induk Nuklir AS Pamer Kekuatan di Laut China Selatan
Zhang tidak sendirian. Liu Zhenli, Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat, ikut terseret investigasi. Sepanjang 2025, sedikitnya sembilan jenderal senior PLA disingkirkan, termasuk figur berpengaruh seperti He Weidong dan Miao Hua.
Ini adalah pembersihan militer terbesar sejak Revolusi Kebudayaan. Bukan sekadar operasi bersih-bersih, melainkan pembabatan hutan bambu sampai ke akarnya.
Ironisnya, semua ini terjadi di negara dengan sistem pengawasan paling masif di dunia. China memiliki lebih dari 500 juta kamera CCTV aktif, mencakup jalanan, transportasi publik, hingga desa terpencil. Ini lebih dari separuh kamera pengawas di seluruh dunia.












