Mereka merasa tidak perlu lagi berinvestasi ide pada tempat yang akan segera ditinggalkan.
4. Lebih Sering Mengambil Izin Singkat
Izin sakit yang mendadak, izin urusan keluarga yang sering, atau pulang lebih awal secara rutin bisa menjadi indikasi mereka sedang mengatur jadwal pertemuan dengan perusahaan baru.
Frekuensi absen yang meningkat tanpa alasan medis yang jelas adalah tanda peringatan yang kuat.
5. Produktivitas yang “Pas-pasan”
Fenomena quiet quitting sering kali menjadi jembatan menuju resign.
Karyawan akan bekerja hanya sesuai deskripsi pekerjaan minimal, tanpa keinginan untuk memberikan nilai tambah.
Mereka bekerja sekadar untuk menyelesaikan kewajiban hingga hari terakhir mereka tiba.
6. Perubahan Perilaku di Media Sosial
Di era digital, aktivitas di LinkedIn bisa menjadi indikator nyata.
Karyawan yang tiba-tiba memperbarui foto profil profesional, lebih aktif mengunggah portofolio, atau menjalin koneksi dengan banyak recruiter, hampir dipastikan sedang membuka pintu untuk peluang baru.
Mengenali ciri-ciri di atas bukan berarti Anda harus bersikap curiga.
Sebaliknya, ini adalah momen bagi atasan untuk mengajak mereka berdiskusi secara hati ke hati (one-on-one).
Siapa tahu, masalah yang mereka hadapi sebenarnya bisa diselesaikan sebelum mereka benar-benar melangkah pergi.
(Mira)
















