Tari Timang Banjar: Sejarah Ritual Tolak Banjir Pontianak

Ilustrasi - Tari Timang Banjar ciptaan Ncek Mat tahun 1921 memiliki sejarah unik. Tarian ini berfungsi sebagai ritual menolak banjir di Pontianak. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Tari Timang Banjar ciptaan Ncek Mat tahun 1921 memiliki sejarah unik. Tarian ini berfungsi sebagai ritual menolak banjir di Pontianak. (Dok. Ist)

Makna Gerakan Menolak Air

Nama Timang Banjar memiliki makna filosofis yang kuat berkaitan dengan bencana alam. Kata “Timang” memiliki arti membujuk-bujuk. Sedangkan kata “Banjar” merujuk pada lokasi tempat tinggal penciptanya, yaitu Kampung Banjar, yang sering terkena banjir pasang air laut.

Ncek Mat menciptakan gerakan tangan menolak sebagai simbol doa dan usaha mengusir air pasang agar banjir segera surut. Masyarakat pada masa itu mempercayai gerakan ini berfungsi sebagai permohonan kepada Sang Pencipta agar menjauhkan mereka dari musibah banjir tahunan yang melanda kawasan pinggiran sungai.

Paduan Gerak Perempuan dan Laki-laki

Keunikan utama Tari Timang Banjar terletak pada struktur penyajiannya yang menggabungkan dua babak tarian. Tarian ini terdiri dari Tari Timang Banjar dan Tari Anak Ikan.

Baca Juga: Mengenal Batang Burok: Kue Filosofis Penguji Etika Bangsawan

Penari perempuan membawakan bagian Tari Timang Banjar dengan gerakan yang menggambarkan gelombang air. Setelah itu, penari laki-laki masuk membawakan Tari Anak Ikan. Bagian kedua ini menggambarkan kegembiraan warga saat banjir mulai surut dan mereka turun ke sungai untuk memungut ikan yang terdampar.

Penari laki-laki pada sesi Tari Anak Ikan membawakan gerakan yang lebih gagah karena mengadopsi gerakan silat. Mereka menggunakan properti unik berupa alat pancing kecil yang terbuat dari rotan atau tembung. Gabungan ini menciptakan harmonisasi cerita utuh tentang kehidupan masyarakat Pontianak yang akrab dengan sungai.

(*Sr)