Tari Timang Banjar: Sejarah Ritual Tolak Banjir Pontianak

Ilustrasi - Tari Timang Banjar ciptaan Ncek Mat tahun 1921 memiliki sejarah unik. Tarian ini berfungsi sebagai ritual menolak banjir di Pontianak. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Tari Timang Banjar ciptaan Ncek Mat tahun 1921 memiliki sejarah unik. Tarian ini berfungsi sebagai ritual menolak banjir di Pontianak. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Penetapan Tari Timang Banjar sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia membuka kembali lembaran sejarah kesenian Keraton Kadriyah. Tarian ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan respons kreatif masyarakat Pontianak zaman dahulu dalam menghadapi fenomena alam di lingkungannya.

Generasi muda perlu mengetahui bahwa tarian ini lahir dari keresahan warga Kampung Beting terhadap musibah banjir yang rutin melanda tepian Sungai Kapuas. Berikut adalah fakta sejarah dan filosofi Tari Timang Banjar yang tersimpan dalam arsip sejarah kesenian Pontianak.

Baca Juga: Kue Batang Burok dan Tari Timang Banjar Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda

Ncek Mat Menciptakan Tari Tahun 1921

Seorang seniman bernama Ncek Ahmad, atau lebih dikenal sebagai Ncek Mat, menciptakan Tari Timang Banjar pada tahun 1921. Ncek Mat merupakan seniman kelahiran Singapura yang merantau ke Pontianak dan menetap di kawasan Keraton Kadriyah, tepatnya di Kampung Banjar, Kelurahan Dalam Bugis.

Ncek Mat menciptakan tarian ini atas permintaan Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan ke-6 Keraton Kadriyah. Sultan meminta Ncek Mat untuk membuat tarian khusus yang akan tampil pada acara ulang tahun Sultan yang ke-6.

Ncek Mat kemudian merespons titah tersebut dengan menciptakan karya yang terinspirasi dari kondisi lingkungan sekitarnya.