Mengenal Batang Burok: Kue Filosofis Penguji Etika Bangsawan

Kue Batang Burok memiliki sejarah unik tentang kisah cinta Wan Sinari. (Dok: Wikipedia)
Kue Batang Burok memiliki sejarah unik tentang kisah cinta Wan Sinari. (Dok: Wikipedia)

Filosofi Menjaga Rahasia

Masyarakat Melayu memegang teguh filosofi “Biar pecah di mulut, jangan pecah di tangan” yang melekat pada kue ini. Pepatah tersebut tidak hanya berbicara soal cara makan, tetapi juga prinsip kehidupan.

Filosofi ini mengajarkan seseorang untuk memegang teguh amanah. Seseorang harus mampu menjaga rahasia dan janji yang telah ia ucapkan, sebagaimana ia menjaga kue agar tidak hancur sebelum masuk ke mulut.

Nilai-nilai luhur inilah yang menjadikan Kue Batang Burok lebih dari sekadar makanan, melainkan media pendidikan karakter bagi masyarakat Melayu.

Baca Juga: Disdikbud Pontianak Masukkan Batang Burok ke Kurikulum Sekolah

Komposisi Bahan

Secara teknis, pembuat kue ini menggunakan campuran tiga jenis tepung, yakni tepung terigu, tepung beras, dan tepung kelapa. Pengrajin membentuk adonan menjadi potongan kecil tipis, lalu mengisinya dengan serbuk kacang hijau sebelum menggorengnya.

Tampilan akhirnya menyerupai batang kayu yang lapuk, namun memiliki cita rasa lezat berkat balutan gula halus dan susu bubuk.

(*Sr)