3. Regulasi Emosi yang Sehat (Tidak Memendam)
Di keluarga yang sehat, emosi divalidasi.
Anak diajarkan bahwa marah atau sedih itu wajar dan diajarkan cara mengelolanya.
Psikolog menyebutkan bahwa memendam emosi (suppression) membutuhkan energi kognitif yang sangat besar.
Orang dewasa yang tumbuh di lingkungan suportif tidak perlu membuang energi untuk berpura-pura baik-baik saja atau menekan emosinya.
Aliran emosi mereka lancar, sehingga “mesin” mental mereka tidak cepat panas.
4. Kualitas Tidur yang Lebih Baik Sejak Kecil
Studi menunjukkan bahwa lingkungan rumah yang damai berkorelasi langsung dengan kualitas tidur anak yang terbawa hingga dewasa. Orang yang tumbuh tanpa trauma rumah tangga cenderung memiliki ritme sirkadian yang lebih sehat dan tidur lebih nyenyak (fase Deep Sleep).
Tidur adalah fase recharge utama bagi manusia. Wajar jika mereka yang tidurnya berkualitas memiliki stamina mental dan fisik yang jauh lebih prima di siang hari.
5. Pandangan Dunia yang Positif (Optimism Bias)
Tumbuh dengan dukungan penuh menanamkan pola pikir bahwa “dunia ini tempat yang aman dan saya mampu menghadapi masalah.”
Optimisme ini adalah penghemat energi yang luar biasa.
Ketika menghadapi masalah, mereka fokus pada solusi (hemat energi), bukan pada meratapi nasib atau menyalahkan keadaan (boros energi).
Menjadi bagian dari “Keluarga Cemara” memang memberikan privilege berupa start awal yang lebih baik dalam hal ketahanan mental. Namun, bagi Anda yang tidak memilikinya, jangan berkecil hati.
Psikologi menegaskan konsep Neuroplastisitas: otak bisa berubah.
Anda bisa menjadi “pemutus rantai” dan membangun ketahanan energi Anda sendiri dengan terapi, lingkungan yang tepat, dan re-parenting diri sendiri.
Energi tak terbatas itu bisa dilatih, bukan hanya diwariskan.
Baca Juga: Kata Siapa Extrovert Gak Bisa Slow Living? Ini Cara Menikmati Hidup Tanpa Kehilangan Jati Diri
(Mira)
















