Dewasa yang ‘Baterainya’ Awet: Benarkah Karena Tumbuh di ‘Keluarga Cemara’? Ini Kata Psikologi

"Kenapa ada orang dewasa yang mentalnya sekuat baja dan jarang lelah? Psikolog ungkap kaitannya dengan pola asuh "Keluarga Cemara" dan sistem saraf yang tenang."
Kenapa ada orang dewasa yang mentalnya sekuat baja dan jarang lelah? Psikolog ungkap kaitannya dengan pola asuh "Keluarga Cemara" dan sistem saraf yang tenang. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda bertemu rekan kerja atau teman yang sepertinya tidak pernah kehabisan energi? Mereka tetap tenang di bawah tekanan, jarang terlihat burnout, emosinya stabil, dan selalu punya kapasitas untuk mendengar keluh kesah orang lain.

Seolah-olah, baterai mental mereka berkapasitas ganda.

Sebaliknya, ada orang yang mudah sekali merasa lelah secara mental (mentally drained), sensitif, dan butuh waktu lama untuk memulihkan diri setelah satu konflik kecil.

Banyak yang mengira ini murni soal kepribadian introvert atau extrovert.

Baca Juga: Bukan Cuma Jago Ngomong! Ini 6 Kelebihan Orang Extrovert yang Membawa Kesuksesan

Namun, riset psikologi menunjukkan adanya korelasi kuat antara latar belakang keluarga (“Keluarga Cemara”) dengan konservasi energi mental di masa dewasa.

Mengapa orang yang tumbuh di lingkungan keluarga suportif cenderung punya “baterai” yang lebih awet? Berikut penjelasan ilmiahnya.

1. Tidak Terjebak Mode ‘Siaga Satu’ (Hypervigilance)

Anak yang tumbuh di keluarga disfungsional atau penuh konflik sering mengalami hypervigilance.

Otak mereka terlatih untuk selalu waspada memindai bahaya (misalnya: apakah ayah sedang marah? apakah ibu akan berteriak?).

Menurut riset trauma, kondisi ini memaksa sistem saraf bekerja lembur memproduksi hormon stres (kortisol) secara kronis.

Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa. Akibatnya, energi mereka habis hanya untuk “berjaga-jaga” terhadap ancaman yang sebenarnya tidak ada.

Sebaliknya, anak “Keluarga Cemara” tumbuh dengan rasa aman (psychological safety). Sistem saraf mereka rileks, sehingga energi mereka tidak bocor untuk kecemasan yang tidak perlu.

2. Memiliki Secure Attachment Style

Teori Kelekatan (Attachment Theory) dari John Bowlby menjelaskan bahwa anak yang mendapatkan kasih sayang konsisten akan mengembangkan secure attachment.

Di masa dewasa, mereka tidak menghabiskan energi untuk overthinking dalam hubungan, tidak mudah cemburu, dan tidak takut ditinggalkan.

Hubungan interpersonal bagi mereka adalah sumber energi, bukan beban yang melelahkan.

Ini membuat mereka tampak selalu bugar secara emosional dibandingkan mereka yang memiliki anxious attachment (cemas berlebih).