Awas Karir Mandek! Hindari 5 Sifat Toksik Ini Menurut Psikologi Kerja

"Karir terasa mentok? Mungkin sikapmu penyebabnya. Kenali 5 sifat toksik di dunia kerja seperti Dunning-Kruger effect dan perfeksionisme yang harus dihindari."
Karir terasa mentok? Mungkin sikapmu penyebabnya. Kenali 5 sifat toksik di dunia kerja seperti Dunning-Kruger effect dan perfeksionisme yang harus dihindari. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Memiliki hard skill yang mumpuni saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan karir.

Banyak karyawan cerdas yang karirnya jalan di tempat, atau bahkan dipecat, bukan karena mereka tidak bisa bekerja, melainkan karena masalah sikap (attitude).

Dalam dunia psikologi industri dan organisasi, perilaku kerja kontraproduktif sering kali berakar dari sifat-sifat kepribadian tertentu yang tidak disadari.

Sifat-sifat ini bisa menjadi “bom waktu” yang merusak reputasi profesional Anda.

Baca Juga: Mental Aman, Karir Nyaman: 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Harus Segera Ditinggalkan

Berdasarkan riset perilaku organisasi, berikut adalah 5 sifat yang wajib Anda hindari jika ingin karir terus menanjak.

1. Merasa Paling Pintar (Dunning-Kruger Effect)

Pernah bertemu rekan kerja yang merasa dirinya paling tahu segalanya dan anti-kritik, padahal kinerjanya biasa saja? Dalam psikologi, ini disebut efek Dunning-Kruger. I

ni adalah bias kognitif di mana orang dengan kemampuan rendah justru melebih-lebihkan kompetensi mereka.

Bahayanya: Sifat ini menutup pintu untuk belajar.

Di dunia kerja, orang yang merasa sudah “penuh gelasnya” akan sulit beradaptasi dengan perubahan, sulit menerima masukan atasan, dan akhirnya tertinggal oleh rekan kerja yang memiliki growth mindset.

2. Perfeksionisme yang Melumpuhkan (Toxic Perfectionism)

Ingin memberikan hasil terbaik itu bagus, tapi perfeksionisme berlebihan justru berbahaya.

Secara ilmiah, ini sering dikaitkan dengan kecemasan tinggi dan takut gagal.

Anda mungkin menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memperbaiki detail kecil yang tidak signifikan, sehingga menunda penyelesaian tugas utama.

Bahayanya: Produktivitas menurun drastis. Atasan lebih menghargai pekerjaan yang selesai tepat waktu (done) daripada pekerjaan sempurna yang tidak pernah selesai (perfect but late).