Tak ingin mengambil risiko fatal bagi paru-paru bayinya, Mufarroha memutuskan untuk segera meninggalkan rumah dan mengungsi sementara ke tempat kerabat di kawasan Permata.
“Tiga hari saya pindah (mengungsi) ke Permata. Kasihan anak-anak demam dan batuk pilek, anak saya baru berumur empat bulan,” tuturnya.
Ia memilih bertahan di pengungsian selama tiga hari hingga situasi dirasa benar-benar aman.
Mufarroha baru berani membawa bayinya kembali ke rumah setelah petugas pemadam kebakaran (Damkar) berhasil memadamkan total titik api yang mengepung kawasan tersebut.
“Saya balik ke sini pas lima harian apinya mati, Kak. Kan ada Damkar ke sini lima harian,” jelasnya.
Kini, meski telah kembali ke rumah, kewaspadaan Mufarroha belum surut.
Ia sangat berharap kebakaran lahan ini tidak terulang kembali.
Baginya, kesehatan anak-anak adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Untuk Karhutla ini semogalah enggak menyebar lagi, cukup kali ini saja. Kasihan anak-anak, Mbak, masih kecil-kecil itu,” pungkasnya.
Baca Juga: Sedang Padamkan Karhutla, Personel Polres Kubu Raya Gerak Cepat Bubarkan Aksi Balap Liar
(Mira)
















